Pada dua dasawarsa ini secara global di seluruh dunia telah terjadi perubahan perspektif terhadap obat bahan alam, yang berdampak penggunaan obat bahan alam sebagai upaya preventif, rehabilitatif, kuratif dan promotif meningkat cukup tajam. Hal ini tentu saja menguntungkan bagi bangsa kita jika mampu menanggapinya dengan bijak. Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya kedua di dunia yang jika biota laut diikutkan merupakan negara terkaya pertama di dunia. Indonesia juga mewarisi “Jamu” (Obat Tradisional Indonesia) sebagai salah satu warisan budaya bangsa yang harus dijaga keselestariannya dan perlu dikembangkan serta dimasyarakatkan kembali sejalan dengan akan terealisasinya ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015; dimana terjadi liberalisasi perdagangan barang, jasa, tenaga kerja terampil serta arus modal secara bebas. Disamping sejumlah manfaat yang diperoleh melalui MEA Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan sebagai konsekuensinya. Jumlah penduduk Indonesia (Dept. Of Economic and Social Affair, United Nations) yang menduduki peringkat ke-4 terbesar di dunia merupakan tujuan pasar terdekat dan utama bagi negara anggota ASEAN.

Untuk itu seluruh lapisan masyarakat Indonesia perlu disadarkan kembali bahwa guna menjaga kesehatan, memperbaiki, mengobati dan perawatan kecantikan ada “Jamu” sebagai pilihannya karena telah terbukti keamanan dan khasiatnya karena telah digunakan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Hal ini merupakan upaya proteksi terhadap produk asing serta meningkatkan kecintaan terhadap “Jamu” yang akhirnya berdampak terhadap meningkatnya pendapatan/perekonomian masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, sebagai salah satu upaya strategis Direktorat Obat Asli Indonesia menyelenggarakan workshop yang melibatkan beberapa instansi terkait mulai dari hulu sampai hilir sebagai narasumber. Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak dua kali di kota Surabaya pada tanggal 19 November 2013 dan di kota Semarang pada tanggal 27 November 2013 dengan melibatkan 271 orang peserta yang terdiri dari pelaku usaha obat tradisional di kota Surabaya dan sekitarnya, Semarang dan sekitarnya, pengurus GP Jamu setempat, instansi pemerintah baik dari pusat (Kemenperin) maupun daerah (Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UKM) dan akademisi.

Materi yang disampaikan dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha guna memberi hasil yang maksimal. Bapak Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik an Produk Komplemen (Drs. T. Bahdar J Hamid, M.Pharm, Apt) menyampaikan bahwa sampai saat ini pemerintah masih menutup investasi sektor obat tradisional terhadap pihak asing, hal ini dilakukan pemerintah sebagai upaya melindungi pelaku usaha kita. Namun di era globalisasi, kebijakan seperti ini tidak populer dan hanya bersifat sementara. Diharapkan pelaku usaha kita dapat menyikapi hal ini dengan baik, agar tenggang waktu ini dimanfaatkan guna mempersiapkan diri agar kelak mampu eksis ditengah persaingan global. Beliau juga menyampaikan sebagai wujud nyata keberpihakan BPOM dalam mendukung pelaku UKOT-UMOT adalah dengan menjadikan persyaratan uji keamanan produk yang didaftarkan di BPOM sebagai target sampling yang dananya dibebankan pada DIPA BPOM. Narasumber dari BPPT dalam paparannya menyampaikan mengenai dukungan teknologi seperti alat-alat pembuat jamu (ekstraktor, evaporator, destilator, penggiling simplisia dan pencuci bahan baku) serta hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dalam mendukung pengembangan Jamu, OHT dan Fitofarmaka. Demikian juga narasumber dari Kemenkes memaparkan perkuatan regulasi di bidang obat tradisional serta dukungan pemerintah terhadap pelaku usaha seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen. Dalam mendukung permodalan, narasumber dari Deputi Urusan Pembiayaan dan Penjaminan Kredit – Kemenkop UKM menyampaikan adanya bantuan sosial untuk perkuatan modal bagi usaha mikro melalui koperasi pedesaan, perkotaan dan koperasi wanita; bantuan dana ini bersifat hibah dan digunakan untuk memperkuat permodalan, menumbuhkan usaha koperasi, pelaku usaha mikro–kecil serta anggota koperasi; ada juga bantuan permodalan bagi wirausaha pemula (WP) sampai dengan Rp. 25 juta per WP. Narasumber dari Direktorat Inspeksi dan Sertifikasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen BPOM menyampaikan perihal Petunjuk Penerapan Higiene, Sanitasi dan Dokumentasi pada UKOT-UMOT. BPOM dalam upaya mempersiapkan pelaku UKOT-UMOT menghadapi Harmonisasi ASEAN tahun 2015 secara bertahap meningkatkan kemampuan UKOT-UMOT dalam memproduksi obat tradisional agar sesuai ketentuan dan persyaratan yang berlaku. Tahap pertama pelaku usaha dibimbing agar memenuhi dua aspek dari sebelas aspek CPOTB yakni : Higiene-Sanitasi dan Dokumentasi. Demikian seterusnya sehingga nantinya seluruh aspek CPOTB dapat terpenuhi guna menjamin produk yang dihasilkan aman dan bermutu sehingga mampu bersaing baik di dalam negeri maupun di pasar ASEAN. Sementara itu dari hulu, Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Sayuran dan Tanaman Obat–Kementerian Pertanian memaparkan perihal dukungannya melalui hasil kajian kesesuaian lahan tanaman obat yang digunakan sebagai bahan baku obat tradisional, ketersediaan bahan baku (simplisia), melakukan registrasi lahan usaha dan Bangsal Pascapanen (menjamin kadar bahan aktif simplisia yang dihasilkan) serta membangun kemitraan dengan industri jamu, industri farmasi dan eksportir. Pada workshop ini juga dilibatkan seorang motivator yang mampu membuka wawasan dan memotivasi peserta agar tetap optimis dalam menjalankan usahanya terutama dalam menghadapi persaingan di pasar ASEAN. CPOTB justru memberi efek yang sangat positif terhadap produk yang dihasilkan oleh UKOT-UMOT. Banyak peserta sungguh mendapat “magic moment” saat pemaparan beliau sehingga mind set peserta terhadap CPOTB dari sesuatu yang sulit berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga dan harus dipenuhi dalam meningkatkan value dari produknya, serta akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produknya juga sebagai bentuk promosi yang pada akhirnya meningkatkan omset.

Pada kesempatan yang sama juga diselenggarakan pameran yang melibatkan industri pembuat mesin/peralatan pabrik, industri ekstrak, produsen packaging dan suplier bahan baku obat tradisional. Dengan diselenggarkannya workshop sekaligus pameran tersebut diharapkan akan terjadi kontrak bisnis antara pelaku usaha obat tradisional dengan produsen, suplier mesin/peralatan pabrik, bahan baku dan industri ekstrak (ada interaksi antara penyedia dan yang membutuhkan).

Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan workshop Pemantapan Kegiatan Peningkatan Kemampuan UKOT-UMOT Dalam Rangka Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang diselenggarakan oleh Direktorat Obat Asli Indonesia sangat sukses, baik dari pemateri, penyelenggaraan maupun respon dari peserta melalui kuisioner yang diberikan.