TANAM BUDAYA MASYARAKAT CERDAS DAN CINTA JAMU SERTA TUMBUHKAN DAYA SAING BANGSA

Berbicara mengenai tanaman obat di Indonesia, dapat dikemukakan dua fakta menarik, pertama Indonesia memiliki keragaman hayati lebih dari 30.000 spesies tanaman, namun baru sekitar 7.500 yang digunakan sebagai tanaman obat (LIPI, 2015). Berdasarkan database Badan POM, baru sekitar 4.671 simplisia yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kedua, hampir di setiap negara, obat tradisional berbasis bahan alam dapat ditemukan dan permintaan untuk layanan ini cenderung meningkat.
Dari fakta tersebut, dapat disimpulkan perlu adanya kebijakan yang menjamin supply dan demand akan obat tradisional yang memenuhi kaidah keamanan, khasiat dan mutu. Peran Badan POM terkait komoditi obat tradisional tidak hanya sebatas mengawasi produk beredar, namun juga mendukung pengembangan obat tradisional melalui upaya mendorong pemanfaatan bahan alam Indonesia yang sudah diketahui bukti ilmiah keamanan dan khasiatnya untuk diolah menjadi produk jadi yang memenuhi persyaratan; serta menyediakan informasi berimbang kepada masyarakat mengenai aspek keamanan, khasiat dan mutu obat tradisional; serta meningkatkan citra jamu dan menumbuhkan budaya cinta produk dalam negeri.

Sebagai wujud dukungan terhadap pengembangan obat tradisional, Badan POM menggiatkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) mengenai aspek keamanan, khasiat dan mutu obat tradisional. Selama Tahun 2016, Direktorat Obat Asli Indonesia, Kedeputian Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen telah menyelenggarakan beberapa rangkaian kegiatan KIE bertajuk AKRAB dengan JAMU, Ajang Kreativitas Bersama dengan Jamu. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu forum komunikasi bagi Academic, Business, Government dan Community dalam rangka sinergisme pengembangan obat tradisional Indonesia (jamu).

Target peserta KIE antara lain pelaku usaha obat tradisional, akademisi farmasi, komunitas pelayanan kesehatan, penyehat tradisional, asosiasi di bidang obat tradisional, serta pemerintah terkait. Narasumber yang terlibat antara lain dari instansi pemerintah terkait, akademisi farmasi dan pelaku usaha di bidang obat tradisional. KIE diselenggarakan dalam bentuk seminar maupun workshop. Topik yang diangkat dalam seminar antara lain informasi komprehensif pengembangan obat obat tradisional mulai dari aspek budidaya, etnomedisin, saintifikasi keamanan dan khasiat, teknologi dan peluang pasar, serta topik terkini lain yang tak kalah penting seperti aspek kehalalan produk; merek, paten dan hak kekayaan intelektual, periklanan, e-commerce dan lain lain. Workshop merupakan pendalaman materi seminar yang disertai praktik tugas kelompok dipandu oleh narasumber dan instruktur.

Pada tanggal 15 Maret 2016 diselenggarakan “Seminar Natural Medicine Development using Seed to Patient Approach” yang diikuti oleh 75 orang peserta dan melibatkan narasumber dari Soho Flordis International Research sebagai salah satu industri yang menerapkan konsep “seed to patient” untuk pengembangan produk. Konsep tersebut merupakan pendekatan berbasis bukti ilmiah yang diterapkan dalam alur pengawasan mutu produk obat bahan alam yang komprehensif dimulai dari tahap kultivasi hingga produk jadi sampai di tangan pasien, dengan tujuan untuk memberikan jaminan keamanan, mutu dan khasiat yang konsisten.

Rangkaian KIE yang kali kedua diselenggarakan adalah “Seminar Ilmiah Tanaman Obat Mahkota Dewa” dan “Workshop Pemasaran bagi Pelaku UMKM” pada 16-17 Mei 2016. Seminar yang diikuti oleh 230 orang peserta ini membahas tanaman obat mahkota dewa secara komprehensif mulai dari aspek regulasi, aspek jaminan kehalalan, penyediaan bahan baku, pemanfaatan secara tradisional, saintifikasi keamanan dan khasiat, pemanfaatan oleh pelaku usaha serta peluang pasar. Pada hari kedua dilaksanakan workshop yang diikuti oleh 110 orang peserta dari UMKM obat tradisional dan penyehat tradisional (hattra), dengan materi pendalaman manajemen keuangan bagi UMKM Obat tradisional.

Rangkaian kegiatan ketiga kali diselenggarakan bertepatan dengan momentum HUT Kemerdakaan RI ke-71, tanggal 18-19 Agustus 2016. Kegiatan dibuka oleh Kepala Badan POM, Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP. Dalam sambutannya, Penny K. Lukito memberi penekanan bahwa perlu adanya sinergi untuk kemajuan serta jaminan keamanan, khasiat dan mutu obat tradisional serta masyarakat diharapkan untuk berpartisipasi aktif dalam pengawasan produk yang beredar dengan menjadi konsumen cerdas yang mampu melindungi diri dari produk yang tidak memenuhi ketentuan sekaligus mencintai jamu sebagai wujud gerakan mencintai produk dalam negeri. Seminar yang diikuti oleh 230 orang peserta kali ini mengangkat tema “Seminar Ilmiah Tanaman Obat Gambir“, sedangkan workshop yang diikuti 150 orang peserta mengangkat tema “Workshop Pengetahuan Etnik dan Rasionalisasi Komposisi Berdasarkan Klaim Empiris“.

Kegiatan KIE ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis pelaku usaha. Tujuan akhirnya, produk jamu yang memenuhi aspek keamanan, mutu dan khasiat, serta meningkat pemanfaatannya, dapat mendorong jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan meningkatkan daya saing bangsa.