JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu pusat keragaman hayati, etnis dan budaya terbesar di dunia. Menurut hasil sensus BPS, terdapat lebih 1.340 suku bangsa dengan 1.071 kelompok etnik yang menyimpan kekayaan pengetahuan tradisional (Traditional knowledge) salah satunya sebagai pengobatan tradisional. Sebanyak 9.600 tanaman telah teridentifikasi sebagai tanaman obat dengan berbagai indikasi penggunaan namun sebagian besar jenis tanaman lain yang berpotensi sebagai tanaman obat perlu dieksplorasi secara ilmiah dan diolah menjadi bentuk sediaan secara komersial untuk menunjang kesehatan dan kebugaran serta berkontribusi dalam peningkatan ekonomi bangsa Indonesia.

Pemerintah saat ini tengah gencar mencanangkan gerakan revolusi mental untuk mencintai produk dalam negeri melalui peningkatan daya saing produk dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Pengembangan produk bahan alam harus dilakukan dengan langkah-langkah terpadu, komprehensif, mulai dari hulu sampai ke hilir dengan melibatkan semua stakeholders. Untuk itu, Badan POM ikut mendorong pelaku usaha melalui beberapa peraturan untuk menjamin keamanan, khasiat, dan mutu produk bahan alam sesuai peruntukkan atau indikasinya.

Bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda ke-88, Badan POM kembali menyelenggarakan rangkaian KIE yang dikemas dalam bentuk talkshow. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu forum komunikasi bagi Academician, Business, Government dan Community (ABGC) dalam rangka sinergisme pengembangan produk berbasis bahan alam yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan produksi pelaku usaha produk bahan alam guna menghadapi tantangan kompetisi perdagangan Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Kegiatan KIE dalam bentuk talkshow “Sinergisme Academician, Business, Goverment & Community Dalam Pengembangan Produk Berbasis Bahan Alam” diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Oktober 2016 di Aula Gedung C Badan POM, yang melibatkan:

  • Peserta sebanyak ±230 orang dari pelaku usaha/industri obat tradisional, kosmetik, suplemen kesehatan dan ekstrak bahan alam; komunitas profesi; akademisi farmasi universitas di Jakarta dan sekitarnya; pegawai Badan POM dan instansi pemerintah terkait.
  • Narasumber dari akademisi, komunitas, maupun instansi pemerintah, yaitu Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen, Badan POM; Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Kementerian Kesehatan RI; dan PT. Martina Berto.
  • Penanggap dari Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi; Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI); PT. Deltomed; perwakilan asosiasi GP Jamu; dan perwakilan asosiasi Perkosmi.

Pada akhir acara disimpulkan bahwa Badan POM terbuka dan memperhatikan dinamika perkembangan obat bahan alam dengan mengawal konsorsium antara industri dengan peneliti (hilirisasi). Kolaborasi antar lembaga penelitian, analisis untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh ABGC, serta upaya untuk memanfaatkan obat bahan alam untuk tujuan preventif dan promotif kesehatan perlu dilakukan.