Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Ageratum conyzoides L.

Nama Indonesia

Babandotan

Suku

Asteraceae

Sinonim

Ageratum cordifoiium Roxb.

Nama Daerah

Babandotan (Sunda); Bandotan (Jawa), Dus bedusan (Madura )

Nama Asing

Deskripsi

Habitus berupa tumbuhan terna semusim, tumbuh tegak atau bagian bawahnya berbaring, tingginya sekitar 30-90 cm dan bercabang. Batang berbentuk bulat berbulu tebal. Daun tunggal bertangkai, letaknya saling berhadapan dan bersilang, helaian daun bulat telur dengan pangkal membulat dan ujung meruncing, tepi bergerigi, panjangnya 1-10 cm, lebar 0,5-7 cm, kedua permukaan daun merona dengan kelenjar yang terletak di permukaan bawah daun, warnanya hijau. Bunga majemuk berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata yang keluardari ujung tangkai, biasanya berwarna biru hingga ungu, terkadang putih. Panjang bonggol bunga 6-8 mm, dengan tangkai yang berambut. Buah bulat panjang berwarna hitam dan bentuknya kecil.

Habitat dan Penyebaran

– – –

Status Kelangkaan

Belum Dievaluasi

 

Nama Latin Simplisia

Agerati conyzoidii Herbae

Deskripsi Makroskopis

Berupa semua bagian tumbuhan di atas tanah terdiri atas batang, daun, dan bunga, batang berbentuk silindris, mengkerut, berambut, bunga berupa kumpulan bunga majaemuk bentuk cawan di ujung batang, helaian daun berbentuk bulat telur, rapuh, pertulangan daun menyirip, kedua permukaan kasar, pangkal helaian daun rata, tepi bergerigi, ujung runcing, warna batang cokelat, warna helaian daun hijau kecokelatan, bau aromatik, khas, lama kelamaan agak memualkan, rasa agak pahit, agak kelat.

Kegunaan Empiris

Digunakan untuk diare, penurun panas dan alergi; sebagai obat luar untuk luka dan penyakit kulit.1

Luka (daunnya), demam/ panas (akarnya), radang usus (semua bagiannya).2

Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut ekstrak etanol 96% herba  A. conyzoides pada tikus Wistar albino jantan dan betina dosis tunggal hingga 4.000 mg/kg BB peroral tidak memperlihatkan adanya kematian pada pengamatan sampai 14 hari.(1)

Uji toksisitas akut ekstrak metanol 90% herba  A. conyzoides menggunakan pedoman OECD-423 pada tikus Wistar albino jantan dan betina dosis hingga 2.000 mg/kg BB peroral menunjukkan tidak ada kematian, dan tidak memperlihatkan gejala abnormal, perubahan perilaku, bobot badan dan makroskopik yang signifikan selama 14 hari pengamatan.(2)

Uji toksisitas akut ekstrak etanol 96% herba  A. conyzoides pada tikus Wistar albino jantan dan betina menunjukkan LD50 sebesar 10.100 mg/kg BB peroral dan tidak memperlihatkan perbedaan kadar serum alanin dan aspartat aminotransferase, alkalin fosfatase, amilase, kreatinin, total protein dan glukosa yang signifikan.(3)

 

Toksisitas Subkronis

Uji toksisitas subkronis ekstrak etanol 96% herba A. conyzoides pada tikus Wistar albino jantan dan betina dosis 500 dan 1.000 mg/kg BB/ hari peroral selama 28 hari tidak memperlihatkan efek toksik pada hati, ginjal, tulang dan pankreas tikus.(3)

Toksisitas Kronis

Uji toksisitas kronis ekstrak etanol 70% daun  A. conyzoides terhadap tikus dosis 250 dan 500 mg/kg BB/hari peroral selama 90 hari tidak memperlihatkan efek hepatotoksik dan abnormalitas pada parameter biokimia darah dan hematologi yang signifikan.(4)

Uji Mutagenisitas

Belum diketahui

Uji Teratogenisitas

Belum diketahui

Uji Karsinogenisitas

Belum diketahui

Uji Alergenisitas

Belum diketahui

Kontraindikasi

Wanita hamil.

Efek yang Tidak Diinginkan

Belum diketahui

Peringatan

Belum diketahui

Interaksi Obat

Belum diketahui

Uji Pre Klinik In Vitro

Pemberian ekstrak etanol daun bandotan (Ageratum conyzoides) dengan dosis berulang 1 g/kg BB secara oral pada tikus putih jantan memberikan efek antiradang yang berarti.1

Pemberian secara oral ekstrak daun bandotan (dalam etanol 95%, dikentalkan) dengan dosis berulang 0,5 g/kg BB yang disuspensikan dengan gom arab 5% memberikan inhibisi radang sebesar 52,32% dengan efek yang bertahan sampai 360 menit pada pengujian terhadap tikus putih jantan.2

Pemberian secara oral ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides) (dalam etanol 95%, dikentalkan) dengan dosis berulang 0,8 g/kg BB yang disuspensikan dengan gom arab 5% memberikan inhibisi radang dapat mencapai lebih dari 85% pada pengujian terhadap tikus putih jantan.2

Penyiapan dan Dosis

Infus, sehari dua kali 1 gelas

Tingtur, 2-3 ml sehari dua kali

Serbuk (dalam kapsul), 1-2 g sehari dua kali.

Penyimpanan

Disimpan dalam wadah tertutup baik, temp at yang kering dan sejuk

Uji Pre Klinik In Vitro

Penelitian menggunakan teknologi High Throughput Screening (HTS) dengan enzim DNA Topoisomerase sebagai molekul target memberikan hasil bahwa ekstrak metanol herba bandotan mampu menghambat enzim DNA Topoisomerase II dan memiliki aktivitas sitotoksik pada kultur sel mieloma mencit.1,2

Penyiapan dan Dosis

Rebus 30 – 60 g herba bandotan segar atau 15 – 30 g herba kering dalam tiga gelas air sampai tersisa menjadi satu gelas. Selain direbus, herba segar dapat juga ditumbuk. Air rebusan atau air perasannya diminum satu gelas sehari.3

Penyimpanan

Disimpan dalam wadah tertutup baik, temp at yang kering dan sejuk

INFORMASI UMUM TUMBUHAN OBAT
Anonim, 2008, Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup, Volume Pertama, Direktorat Obat Asli Indonesia, Badan POM RI, Jakarta.

INFORMASI UMUM SIMPLISIA
Departemen Kesehatan RI. 2011. Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia Edisi I. Jakarta. 122 hal.

PENGGUNAAN EMPIRIS

  1. Rahayu, S.S.B., Ratnasih Irwanto, R. & van der Maesen, L.J.G., 1999. Ageratum conyzoides L.[Internet] Record from Proseabase. de Padua, L.S., Bunyapraphatsara, N. and Lemmens, R.H.M.J. (Editors). PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation, Bogor, Indonesia. http://www.proseanet.or
  2. Sudarman M dan Harsono R, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, I, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1985, Hal. 38.

PROFIL KEAMANAN

  1. Rahman MA, Akter N, Rashid H, Ahmed NU, Uddin N, Islam MS. Analgesic and anti-inflammatory effect of whole Ageratum conyzoides and Emilia sonchifolia alcoholic extracts in animal models. African J. Pharm. Pharmacol. [Internet]. 2012 May 29 [cited 2013 Dec 30];6(20). Available from: http://www.academicjournals.org/ajpp/abstracts/abstracts/abstract 2012/29 May/Rahman et al.htm
  2. Varadharajan R, Rajalingam D. Anti-convulsant activity of methanolic extracts of Ageratum conyzoides L. Int. J. Innov. Drug Discov. 2011;1(1):24–8.
  3. Igboasoiyi AC, Eseyin OA, Ezenwa NKHOO. Studies on the Toxicity of Ageratum conyzoides. J. Pharmacol. Toxicol. [Internet]. 2007 Aug 1 [cited 2013 Dec 30];2(8):743–7. Available from: http://www.scialert.net/abstract/?doi=jpt.2007.743-7
  4. Moura, A C A, Silva, E L F, Fraga, M C A, Wanderley AG, Afiatpour P, Maia, M B S. Antiinflammatory and chronic toxicity study of the leaves of Ageratum conyzoides L. in rats. Phytomedicine. 2005;12(1-2):138–42.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI SITOTOKSIK
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume IV Edisi I, 2008, diacu dari berbagai sumber:

  1. Hanni Prihhastuti Puspitasari, Sukardiman, Aty Widyawaruyanti, 2003, Uji Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Metanol Herba Ageratum conyzoides L. Pada Kultur Sel Mieloma Mencit, Majalah Farmasi Airlangga, Vol.3 No.3,: 93
  2. Sukardiman, Hadi P. dan Aty W., 2000, Penapisan Antikanker Tanaman Obat Indonesia dengan Molekul Target Enzim DNA Topoisomerase,Penelitian. FFUA, Surabaya.
  3. Soedibyo, Mooryati., 1997, Alam Sumber Kesehatan, Manfaat dan Kegunaan, Balai Pustaka Jakarta,

AKTIVITAS FARMAKOLOGI ANTIINFLAMASI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume III Edisi I, 2007, diacu dari berbagai sumber:

  1. Hisran, Dr. N.C. Soegiarso dan Dr. M. B. Wattimena, 1988, Daun Bandotan (Ageratum conyzoides Linn.) dan Rimpang Temu Kunci (Kaempferia pandurata Roxb.) Pada Tikus Putih Galur Wistar, Skripsi, Institut Teknologi Bandung, 33-36
  2. Sukandar. E.Y., Dr et al., 1998, Pembuatan Sediaan Fitofarmaka Antiinflamasi Yang Efektif dan Aman, Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing VI Tahun I Perguruan Tinggi, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, 9-10