Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Allium sativum L.

Nama Indonesia

Bawang Putih

Suku

Amaryllidaceae

Sinonim

Nama Daerah

Sumatera: lasun (Gayo), bawang mĕntar (Alas), lasuna (Batak Karo, Toba), palasuna (Batak Simalungun), dasun, dasun putiĕh (Minangkabau), bawang handak (Lampung); Jawa: bawang bodas, bawang putih (Sunda), bawang (Jawa); Madura: ghabang potè; Bali: kĕsuna; Nusa Tenggara: langsuna, lĕsune (Sasak), ‘ncuna (Bima), lansuna mawira (Sangi); Kalimantan: bawang basihong (Dayak Ngaju), uduh bawang (Dayak Kenya), bawang puteh (Bulungan), bawang pulak (Tarakan); Sulawesi: lasuna mawuru, lansuna mabida, yantuna mopusi, laasuna moputi, dansuna puti, Lansuna kulo’, lasuna moputi, lansuna kulo, lasuna budo, pia moputi (Gorontalo), pia moputi (Buol), lasuna kèbo (Makasar), lasuna putè (Bugis); Kepulauan Maluku: laisona mabotèik (Roti), kosai boti (Buru), bawa da arè (Halmahera Utara), bawa bobudo (Ternate), bawa iso (Tidore).(2)

Nama Asing

Inggris: garlic; Perancis: ail; Malaysia: bawang putih; Papua New Guinea: galik (Pidgin); Filipina: bawang (Tagalog, Ilocano), ajos (Bisaya), ahus (Ibanag); Vietnam:
t[or]I; Kamboja: khtüm sââ; Laos: kath’ièm; Thailand: krathiam (general), hom-tiam (northern).(3)

Deskripsi

Bawang putih merupakan herba semusim dengan tinggi 30-60 cm, berbau khas bila diremas. Batang semu, warna hijau, tegak, bulat, pada bagian dalam tanah terbentuk bulbus yang  berujung  akar, ada juga yang terbentuk di atas tanah. Daun tunggal berupa roset akar, bentuk lanset, helaian daun linier, datar, tepi  rata, ujung runcing, warna hijau,  beralur, lebar 1-2,5 cm, panjang 30-60 cm,  selubung daun semu. Bunga majemuk, bentuk payung, warna putih, bergulung pada awalnya, bertangkai panjang, berbelah, jumlahnya bervariasi dan jarang karena layu sebelum  bertunas, benang sari berjumlah 6. Umbi tebal dan berdaging membentuk umbi lapis.(4)(5)
 

Habitat dan Penyebaran

Bawang putih berasal dari Tien Shan (pegunungan di Asia Tengah) dan menyebar ke negara-negara mediterania. Pada tahun 3.000 SM bawang putih ditemukan di Mesir. Bawang putih juga merupakan tanaman yang sudah lama dikenal di India dan Tiongkok. Bangsa Spanyol, Portugis dan Perancis membawa bawang putih ke benua Amerika dan menyebar keseluruh dunia.(7)
 

Status Kelangkaan

Belum Dievaluasi

Budidaya

Bawang putih dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat bergantung kepada varietas yang digunakan. Tanaman bawang putih pada umumnya dapat tumbuh optimal pada ketinggian antara 600-1.100 m dpl. Curah hujan tahunan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan berkisar antara 800-2.000 mm/tahun dengan suhu udara 15-20°C. Tanaman bawang putih dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah. Tanah yang ringan, gembur (bertekstur pasir atau lempung) dan mudah meresapkan air (porous) sehingga mampu menghasilkan umbi bawang putih yang lebih baik dari pada tanah yang berat seperti liat atau berlempung. Bawang putih dapat tumbuh optimal pada tanah dengan  pH 6,5-7,5.(1-3)

Penyiapan Benih

Perbanyakan bawang putih biasanya menggunakan umbi. Umbi yang digunakan untuk benih  harus memenuhi persyaratan antara lain bebas hama dan penyakit, pangkal batang berisi penuh dan keras, siung bernas, berat siung 1,5-3 g. Dari panen sampai umbi siap digunakan untuk benih memerlukan waktu sampai 6 bulan. Oleh karena itu untuk mendapatkan benih dalam waktu yang cepat dan seragam dapat dilakukan melalui metode kultur jaringan. Media yang digunakan dalam kutur jaringan bawang putih adalah media BDS ditambah 2 ppm Kinetin dan 0,4 ppm 2,4-D.(4)

Penyiapan Lahan

Bawang putih pada umumnya dibudidayakan di daerah lahan basah, setelah panen padi. Tanah diolah sampai gembur dan dibuat bedengan dengan ukuran lebar

 

80-120 cm, tinggi 40 cm, panjang bedengan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada lahan kering persiapan pembukaan dilakukan dengan cara membersihkan lahan dari sisa-sisa tanaman dan kemudian dilanjutkan dengan pembajakan sedalam 20-30 cm. Pembajakan dilakukan 2-3 kali dengan intensitas rata-rata satu minggu. Parit diantara bedengan dibuat untuk keperluan irigasi yang lebarnya 30-40 cm. Kedalaman parit sangat dipengaruhi oleh keadaan musim. Pada musim hujan diperlukan parit yang lebih dalam. Bila pH tanah kurang dari 6 perlu diberi kapur pertanian (kaptan/dolomit) 1-2 ton/ha dan diaplikasikan 14 hari sampai 1 bulan sebelum tanam.(2,3)

Jarak Tanam

Pengaturan jarak tanam berbeda-beda tergantung pada keperluannya. Misalnya untuk memproduksi bobot siung lebih besar dari 1,5 g maka jarak tanam yang diperlukan adalah 20×20 cm. Selanjutnya untuk ukuran siung lebih kecil dari 1,5 g maka jarak tanam yang disarangkan adalah 15×15 cm atau 15×10 cm, dengan kedalaman tanam 2-3 cm. Sementara itu, untuk memproduksi benih jarak tanam yang diperlukan adalah 10×10 cm. Waktu tanam bawang putih biasa dilakukan pada akhir musim hujan, antara bulan Mei-Juni atau awal musim kemarau dengan syarat tersedia sumber air yang cukup.

Pemupukan

Pemupukan untuk memproduksi umbi yang dikonsumsi dapat dilakukan melalui pemupukan organik atau anorganik (buatan). Melalui pemupukan secara organik berasal dari bahan baku kotoran ayam yang telah mengalami proses sebelumnya dengan dosis 10-20 ton/ha atau pupuk yang berbahan baku kotoran kambing dengan dosis 30 ton/ha. Penerapannya diberikan pada saat tanam dengan cara disebar dan diaduk hingga merata dengan tanah. Dosis pupuk anorganik yang dianjurkan adalah 200 kg N/ha (440 kg/ha Urea) diaplikasikan 3 kali selama pertumbuhan yaitu pada saat tanam, saat pembentukan tunas (15-30 hari setelah tanam) dan saat pembentukan umbi (30-45 hari setelah tanam); 180 kg P2O(500 kg/ha SP36), 60 kg K2O (100 kg/ha KCl) dan S 142 kg/ha diberikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pupuk kandang pada waktu tanam.(3)

Pemupukan khusus memproduksi umbi untuk keperluan benih, selain seperti yang dianjurkan di atas perlu ditambahkan pupuk mikro 20 ppm CuSO4 + 20 ppm ZnSO4 + 10 ppm H3BO3 + 5 ppm Amonium Mo. Penambahan bahan-bahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kekerasan umbi.

Sementara itu untuk meningkatkan kualitas dan hasil umbi dapat ditambahkan pemberian pupuk kimia cair seperti sitozim dengan konsentrasi 0,25% yang disemprotkan pada daun pada umur 20 dan 60 hari setelah tanam, atau pupuk daun mass mikro dengan konsentrasi 200 ppm yang diaplikasikan 3 kali yaitu umur 3, 6 dan 9 hari setelah tanam dan pupuk hipron yang diaplikasikan sebanyak 2 kali dengan konsentrasi 2 ml/l.
 

Pemeliharaan

Pemeliharaan pada budidaya bawang putih dilakukan dengan cara:
  • Pemulsaan
Mulsa adalah bahan penutup tanaman budidaya yang dapat berupa jerami padi atau sisa-sisa tanaman yang telah mati. Pemulsaan dilakukan pada musim kemarau untuk mengurangi penguapan dan menghambat pertumbuhan gulma. Penggunaan mulsa dari bahan plastik tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan suhu tanah di sekitar perakaran dan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
  • Pengairan
Pengairan dilakukan dengan cara penggenangan parit-parit diantara bedengan. Frekuensi pemberian air tergantung pada umur tanaman. Pada awal pertumbuhan frekuensi pemberian air 2-3 hari sekali sesuai dengan kebutuhan. Pada masa pembentukan tunas sampai dengan pembentukan umbi, pemberian air dilakukan 7-15 hari sekali dengan cara yang sama. Pada saat pembentukan umbi maksimal atau 10 hari menjelang panen tidak dilakukan pengairan.
  • Penyiangan
Penyiangan gulma diikuti dengan perbaikan bedengan dengan selang waktu
 
20-30 hari atau disesuaikan dengan keadaan laju pertumbuhan gulma di lapangan. Penyiangan tidak dilakukan setelah tanaman bawang putih masuk fase generatif, karena dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi.
  • Pengontrolan Hama Penyakit
Terdapat kurang lebih 19 Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menyerang tanaman bawang putih, diantaranya adalah Thrips tabaci yang dapat menimbulkan kerusakan daun sebesar 80%. Hama ini dapat dikendalikan dengan insektisida Polo SC-500 dengan konsentrasi 2 ml/l air yang diaplikasikan dengan cara disemprot. Jenis insektisida lainnya yang dianjurkan yaitu fosfat organik misalnya Bayrusil 250 EC, Mesurol 50 WP, Azodrin 15 WSC atau Nuvacron 20 SCW dengan konsentrasi 2 ml/l air, diaplikasikan dengan interval 7 hari terutama pada waktu tanaman baru tumbuh sampai kurang lebih umur 10 minggu.
Jenis hama lain yang menyerang tanaman bawang putih adalah golongan tungau. Hama ini dapat dikendalikan dengan akarisida seperti fenfopatrin (Neothin 50 EC) atau dimetoat (Roxion 40 EC) 2 ml/l tiap minggu dimulai pada umur 9 minggu sampai dengan 2 minggu sebelum panen.

Penyakit yang biasanya menyerang bawang putih adalah purple bloch (Alternaria porri), dapat dikendalikan dengan kombinasi captafol, chlorotalonil (0,1 %) + 250 rad, atau menggunakan Dithane M-45, 2 g/l air dengan interval 7 hari sekali pada umur 15 hari sampai dengan 2 minggu sebelum panen. Bila cuaca berkabut interval penyemprotan dapat diperpendek menjadi 2 kali satu minggu; Leaf spot (Stemphylium vesicarium) dikendalikan dengan propineb, captafol 0,2% yang dikombinasikan dengan radiasi sebesar 500 rad; Fusarium oxysporum ditempat penyimpanan dikendalikan dengan menggunakan 0,05% benlate, sedangkan pengendalian di lapang menggunakan Benomil (Benlate) 0,5 g/l air dengan interval 7 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari setelah tanam. Kehilangan hasil oleh keempat macam penyakit tersebut berkisar 60-80%.

Selain secara kimia penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan kultivar yang toleran. Lumbu Hijau, Tawang Mangu dan Lumbu Hitam diangap toleran terhadap Alternaria pori, sedangkan cv. Lumbu Hijau, Lumbu Hitam dan Jatibarang dianggap toleran terhadap Stemphylium.

Penyebab penurunan produksi bawang putih dapat juga diakibatkan oleh penyakit busuk lunak yang disebabkan oleh Erwinia spp. Kerusakan yang ditimbulkan oleh petogen tersebut mencapai 61,4% dan hingga kini sulit dikendalikan karena bersifat tular tanah dan tular umbi. Penggunaan senyawa kimia untuk mengendalikan penyakit busuk lunak jarang dilakukan petani. Penggunaan Agrimicyn 15/1,5 WP dan Agrept 25 WP atau dengan pemanasan umbi bibit pada suhu 45°C selama 20 menit efektif mengendalikan patogen busuk lunak, sedangkan terhadap hasil umbi hanya Agrimicyn 15/1,5 WP yang dapat mempertahankan hasil.(3)

Panen

Panen bawang putih tergantung pada varietasnya, yaitu antara 90-120 hari setelah tanam. Ciri-ciri tanaman siap panen adalah terjadi perubahan warna pada daun dari hijau menjadi kuning dengan tingkat kelayuan 35-60%. Panen dilakukan dengan cara mencabut tanaman dengan tangan pada saat cuaca cerah. Produksi umbi mencapai 5,6 sampai 12 ton/ha tergantung varietas dan lokasi penanaman. Umbi hasil panen diikat sebanyak 20-30 rumpun per ikat.
 

 

Nama Latin Simplisia

Allii Sativi Bulbus

Deskripsi Makroskopis

Umbi lapis bawang putih adalah umbi Allium sativum L., mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,50% v/b. Bentuk berupa umbi lapis utuh, warna putih atau keunguan, bau khas, rasa agak pahit. Umbi bawang putih putih adalah umbi lapis yang terbentuk dari roset daun yang terdiri atas beberapa umbi berkelompok membentuk sebuah umbi yang besar.
Umbi lapis berupa umbi majemuk berbentuk hampir bundar, garis tengahnya

4-6 cm, terdiri atas 8-20 siung seluruhnya, diliputi 3-5 selaput tipis serupa kertas berwarna agak putih, tiap siung diselubungi oleh 2 selaput serupa kertas, selaput luar warna agak putih dan agak longgar, selaput dalam warna merah muda dan melekat pada padat dari siung tetapi mudah dikupas; siung bentuk membulat di bagian punggung, bidang samping rata atau agak bersudut.

 

Deskripsi Mikroskopis

Fragmen pengenal adalah parenkim, parenkim dengan tetes minyak, berkas pengangkut, korteks, parenkim dengan resin dan serabut.
 

Kegunaan Empiris

Penggunaan bulbus yang dijelaskan dalam farmakope dan dokumen resmi tertentu yaitu: untuk infeksi saluran pernapasan dan saluran kemih, kurap, rematik, sebagai karminatif pada dispepsia; dalam pengobatan tradisional digunakan untuk antipiretik, afrodisiak, diuretik, emmenagogue, ekspektoran, obat penenang, asma, bronkitis dan merangsang pertumbuhan rambut.1
Asma, batuk, muntah, radang anak telinga, kudis, panu, gatal-gatal, masuk angin, digigit serangga berbisa, tekanan darah tinggi, kolera, cacing gelang/ kremi/ trichina, kepala pusing sebelah, haid terasa nyeri, lemah syahwat (umbinya).2

Toksisitas Akut

LD50 ekstrak air umbi lapis bawang putih sebesar 3.034 mg/kg BB dengan dosis maksimum yang dapat ditoleransi 2.200 mg/kg BB secara subkutan pada kelinci (n=3). Mortalitas muncul pada dosis 3.200 (2 ekor) dan 4.200 mg/kg BB (3 ekor) dengan adanya perubahan perilaku seperti hilangnya nafsu makan dan paralisis sebagian tubuh hewan.1
 

Toksisitas Jangka Pendek

Uji toksisitas jangka pendek ekstrak air bawang putih dosis 0, 75, 300, 1.200 dan 4.800 mg/kg BB peroral selama 4 minggu pada tikus Wistar albino jantan dan betina menunjukkan bahwa pada dosis 1.200 dan 4.800 mg/kg BB terjadi peningkatan bobot organ hati dan limpa terhadap rasio bobot badan, peningkatan protein total pada serum, serta penurunan protein total pada hati dan paru-paru. Selain itu terjadi peningkatan aktivitas transaminase dan penurunan kadar hematokrit. Dosis tinggi dapat merusak hati, limpa dan paru-paru, kehilangan nafsu makan serta kondisi anemia pada hewan coba.2
 

Toksisitas Kronis

Uji toksisitas kronis bawang putih pada tikus Wistar menunjukkan tidak ada gejala toksik pada dosis sampai 2.000 mg/kg BB yang diberikan peroral 5 kali dalam seminggu selama 6 bulan. Tidak ditemukan adanya kelainan hasil uji histopatologi, hematologi dan serologi pada hewan uji.3

Uji Mutagenisitas

Pada uji mutagenisitas secara in vitro menggunakan microsome reversion assay terhadap Salmonella dan Escherichia coli memperlihatkan bahwa umbi lapis bawang putih tidak menunjukkan efek mutagenik.4,5

Uji Teratogenisitas

Uji klinik acak, tersamar tunggal dengan kontrol plasebo, dilakukan pada 100 wanita hamil primigravida (hamil pertama kali) yang diberikan tablet bawang putih (800 mg/hari) atau plasebo selama trimester ke-3 kehamilan untuk mengetahui efek suplementasi bawang putih terhadap preeklamsia. Dilaporkan adanya efek samping ringan seperti bau badan dan efek ringan lainnya (salah satunya mual). Pada penelitian tersebut tidak dijumpai adanya insidensi malformasi mayor atau minor pada bayi baru lahir maupun aborsi spontan janin.6

Uji Alergenisitas

Uji untuk mengidentifikasi protein alergen dan potensi alergenisitas yang ditimbulkan dilakukan terhadap protein bawang putih, yang dipisahkan dari ekstrak bawang putih menggunakan SDS-PAGE dan 2-dimensi. Selanjutnya dilakukan immunoblotting menggunakan serum pasien penderita alergi bawang putih, kemudian protein yang terikat dengan IgE dianalisa dengan amino acid sequencing dan mass spectrometry. Senyawa yang diduga berpotensi sebagai alergen selanjutnya dimurnikan dengna kromatografi; kemudian dilakukan uji immunoblotting, periodate oxidation, skin tests, dan IgE-binding inhibition assays untuk melihat antigenisitas, alergenisitas dan reaksi silang ikatan IgE. Hasil menunjukkan bahwa aliin liase teridentifikasi sebagai alergen utama penyebab alergi pada bawang putih.
Uji radio allergosorbent test (RAST) dilakukan terhadap 108 pasien yang menderita alergi makanan. Dari 108 pasien, sebanyak 15 pasien memiliki antibodi IgE spesifik terhadap bawang putih dan bawang merah. Sebanyak 14 pasien memperlihatkan antibodi IgE spesifik bawang putih yang memiliki skor RAST 1-4. Sebagian besar dari 14 pasien tersebut menunjukkan skor RAST 1 (0,35-0,69 kU/l). Adanya antibodi IgE spesifik pada sebagian besar pasien tersebut mengindikasikan potensi sensitisasi dan alergenik bawang putih.8

Kontraindikasi

Konsumsi bawang putih secara berlebihan pada makanan maupun suplemen tidak dianjurkan selama kehamilan dan menyusui.

Efek yang Tidak Diinginkan

Efek samping yang banyak dilaporkan pada beberapa uji klinik antara lain bau napas dan bau badan yang tidak sedap akibat mengonsumsi bawang putih. Selain itu dilaporkan juga adanya efek samping ringan terhadap pencernaan (mual dan kembung), serta potensi reaksi alergi akibat mengonsumsi bawang putih, antara lain dermatitis kontak, urtikaria, angioedema, pemfigus, anafilaksis dan fotoalergi, perubahan pada fungsi platelet dan koagulasi (dengan resiko perdarahan), serta rasa terbakar ketika bawang putih diaplikasikan secara topikal.9 Konsumsi suplemen bawang putih pada ibu menyusui tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap frekuensi bayi menyusu maupun produksi air susu ibu.10

Bawang putih memiliki efek terhadap kardiovaskular antara lain antiplatelet, antitrombotik dan fibrinolitik. Studi klinik menunjukkan penurunan yang signifikan aktivitas agregasi platelet dan fibrinolitik. Beberapa kasus menunjukkan kemungkinan bahwa bawang putih dapat meningkatkan resiko pendarahan, khususnya pada pasien yang akan menjalani terapi bedah.9 Peringatan pada pasien yang menerima terapi warfarin bahwa suplemen mengandung bawang putih dapat meningkatkan waktu pendarahan. Pembekuan darah pernah dilaporkan dua kali lipat lebih lama pada pasien yang menerima warfarin dan suplemen mengandung bawang putih.11 Berdasarkan sistem klasifikasi herbal oleh The American Herbal Products Association (AHPA), bawang putih termasuk dalam kategori Kelas 2c (tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui).12

Interaksi Obat

Beberapa interaksi bawang putih yang pernah dilaporkan antara lain :
1. Interaksi dengan Obat

  • Bukti klinik menunjukkan bahwa konsumsi bawang putih dapat mempengaruhi farmakokinetika dan farmakodinamika obat antiretroviral. Kemungkinan mekanisme interaksi tersebut dikarenakan suplemen mengandung allisin dapat menginduksi isoenzim CYP450 3A4 dan secara klinik menyebabkan penurunan konsentrasi obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Contoh interaksi yang sudah terbukti adalah dengan saquinavir. Hasil observasi pada relawan sehat setelah pemberian penghambat protease saquinavir (antiretroviral) selama tiga minggu menunjukkan penurunan yang signifikan terhadap konsentrasi plasma saquinavir. Meskipun beberapa belum terbukti, sebaiknya hindari penggunaan bersamaan dengan penghambat protease, siklosporin, ketokonazol, itraconazole, glukokortikoid, kontrasepsi oral, verapamil, diltiazem, lovastatin, simvastatin dan atorvastatin.9,13
  • Bawang putih memiliki efek kardiovaskuler yang kompleks, oleh karena itu secara teori dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan/antiplatelet berupa peningkatan resiko pendarahan, contohnya aspirin, klopidogrel, tiklopidine, dipiridamol, heparin, fluindion dan warfarin.9,13
  • Kemungkinan dapat berinteraksi dengan obat antidiabetes klorpropamid dan analgesik parasetamol.9
  • Bawang putih memiliki efek aditif terhadap obat penurun tekanan darah lisinopril. Mekanisme interaksi ini belum diketahui, meskipun bawang putih telah dilaporkan dapat menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.14
  • Berdasarkan data uji praklinik pada kelinci, bawang putih dapat menurunkan kadar isoniazid.15

2. Interaksi dengan tanaman lain

  • Dengan asidophilus, kemungkinan dapat menurunkan absorpsi bawang putih. Diberi selang waktu minimal 3 jam bila dikonsumsi bersamaan.16

Uji Pre Klinik In Vitro

Uji    aktivitas    afrodisiaka    ekstrak    bawang    putih    dosis    0,57;    1,13    dan    2,25    ml/kg    BB    peroral    selama    28    hari    pada    mencit    jantan   menunjukkan    peningkatan    perilaku    seksual    yang    tergantung    dosis.1

 

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka,  misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya  matahari, serta jauh dari jangkuan anak-anak.2

 

Uji Pre Klinik In Vivo

Uji    aktivitas    analgesik    dan    antinosiseptif    serbuk    bawang    putih    dosis    75,    150    dan     300    mg/kg    BB    peroral    pada    mencit    albino    jantan    dan    betina    (n=6)    menggunakan    beberapa    metode    uji    yaitu    geliat    asam    asetat,    induksi    nyeri    dengan    termal,    induksi    respon    menjilat    tikus   dengan    formalin.    Pada    uji    geliat    asam    asetat    (10    ml/kg    BB,    intraperitoneal)    menunjukkan    bahwa    pemberian    serbuk    bawang    putih    dapat    menurunkan    secara    signifikan    jumlah    geliat    tikus    berturut-turut    sebesar    33,65;    57,44    dan    72,10%    dibandingkan    dengan    kelompok    kontrol;    sedangkan    obat    standar    indometasin    10    mg/kg    BB    menunjukkan    penurunan    sebesar    91,38%.    Pada    uji    induksi    nyeri    dengan    termal    menunjukkan    bahwa    pemberian    serbuk    bawang    putih    dapat    meningkatkan    waktu    reaksi    secara    signifikan    (p<0,01)    yaitu    sebesar    16,5    detik pada    dosis    300    mg/kg    BB    dibandingkan    dengan    kelompok    kontrol;    sedangkan    obat    standar    pentazosin    10    mg/kg    BB    menunjukkan    waktu    reaksi    17,2    detik.    Sedangkan    pada    uji    induksi    respon    menjilat    tikus    dengan    formalin    1%    (20    µl,    subkutan),    pemberian    serbuk    bawang    putih    dosis    75    dan    150    mg/kg    BB    dapat    menurunkan    durasi    menjilat    punggung    kaki    pada    fase    awal    sebesar    43,8    dan    35,11    detik    dibandingkan    kelompok    kontrol    (57,2    detik).    Dosis    300    mg/kg    BB    dapat    menghilangkan    sama    sekali    ditunjukkan    dengan    tidak    adanya    aktivitas    menjilat    setelah    injeksi    formalin.    Obat    standar    indometasin    (10    mg/kg    BB)    menunjukkan    durasi    aktivitas    menjilat    kaki    sebesar    25,4    detik.1

 

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.2

Uji Pre Klinik In Vitro

Uji    in vitro    aktivitas    antelmintik    serbuk    bawang    putih    kering,    ekstrak    etanol    dan    fraksi    terpurifikasi    bawang    putih    yang    dipaparkan    terhadap    cacing    hati    Fasciola gigantica menunjukkan    LC50    masing-masing    berturut-turut    sebesar    5,48    (paparan    8    jam);    3,48    (paparan    2    jam)    dan    1,87    (paparan    8    jam)    mg/ml.1

Uji    in vitro    aktivitas    antelmintik    ekstrak    etanol    70%    bawang    putih    yang    dipaparkan    terhadap    cacing    Gigantocotyle explanatum    menunjukkan    penurunan    yang    signifikan    terhadap    frekuensi    dan    amplitudo    kontraksi    amfistoma    pada    konsentrasi    1.000    dan    3.000    µg/ml.    Efek    paralisis    amfistoma    teramati    setelah    15    menit    paparan    konsentrasi    ekstrak    3.000    µg/ml,    dan    efek    tersebut    tidak    reversibel    setelah    pencucian    selama    2-3    kali.2
 

Uji Pre Klinik In Vivo

Uji    in vivo    aktivitas    antelmintik    jus    bawang    putih    (99,3%)    dengan    dosis    10    ml    selama     4    minggu    terhadap    kambing    Boer    betina    (n=5)    yang    diinfeksi    dengan    Coccidia menunjukkan    penurunan    jumlah    telur    di    feses    secara    signifikan    dibandingkan    kontrol    (p<0,05).3

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.4

Uji Pre Klinik In Vitro

Ekstrak    kasar    dengan    dosis    45    µl/ml    pada    darah    dapat    menghambat    agregasi    platelet    in vitro    sampai    80%.    Aktivitas    antiplatelet    tidak    berkurang    pada    pemanasan    dengan    oven    sampai    200°C    atau    pada    perendaman    dalam    air    mendidih    selama    3    menit,    baik    pada    bawang    putih    yang    ditumbuk    maupun    tidak    ditumbuk    terlebih    dahulu,    jika    dibandingkan    dengan    umbi    bawang    putih    segar.    Pada    pemanasan    selama    6    menit    terjadi    penurunan    aktivitas    antiagregasi    platelet    pada    bawang    putih    yang    tidak    ditumbuk,    tetapi    pada    bawang    putih    yang    ditumbuk    terlebih    dahulu    penurunannya    tidak    signifikan.    Senyawa    bioaktif    dari    aktivitas    ini    adalah    alisin    dan    tiosulfinat.1

Uji    terhadap    human umbilical vein endothelial cells (HUVECs)    yang    dikultur    ke    dalam    media    yang    mengandung    serbuk    bawang    putih    konsentrasi    100    dan    500    µg/ml    selama    18    jam    tidak    menunjukkan    perubahan    signifikan    sekresi    t-PA    atau    PAI-1    dari    sel    kultur    ke    dalam    media.    Ketika    t-PA    diinkubasi    bersama    serbuk    bawang    putih    dalam    fibrin    film,    area    lisis    dari    fibrin    meningkat    sebagai    akibat    peningkatan    degradasi    fibrin    oleh    aktivasi    plasminogen    melalui    mediasi    t-PA.    Berdasarkan    kalibrasi    t-PA    dan    zona    lisis,    aktivitas    t-PA    dengan    pemberian    bawang    putih    meningkat    sebesar    180%    dibandingkan    dengan    jika    tidak    diberikan    bawang    putih.2

Uji Pre Klinik In Vivo

Uji    aktivitas    antitrombosis    serbuk    bawang    putih    dosis    1    g/kg    BB    perhari    selama    2    minggu    diberikan    bersama    makanan    pada    tikus    galur    Crl:CD    (SD)    yang    diinduksi    trombosis.    Tikus    dibagi    ke    dalam    3    kelompok    uji    berdasarkan    induksi    trombosis:    tikus    diet    normal    +    sham operation (n=4),    tikus    diet    normal    +    in situ loop operation (n=6)    dan    tikus    diet    bawang    putih    +    in situ loop implantation (n=7).    Hasil    menunjukkan    pada    kelompok    tikus    model    trombosis    dengan    metode    in situ loop yang    diberikan    serbuk    bawang    putih    terjadi    penghambatan    aktivasi    sistem    koagulasi    dan    penurunan    pembentukan    trombin    aktif,    serta    degradasi    trombus    yang    ditunjukkan    oleh    meningkatnya    kadar    fibrinogen degradation products    (FDP).2

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.3

Uji Pre Klinik In Vitro

Uji    aktivitas    relaksan    ekstrak    air    umbi    lapis    bawang    putih    yang    mengandung    0,06-0,10%    alisin    pada    otot    polos    trakea    yang    diisolasi    dari    tikus    yang    diinduksi    kontraksi    dengan    asetilkolin    menunjukkan    relaksasi    otot    polos    trakea    yang    tergantung    dosis    dengan    konsentrasi    efektif    sebesar    71,87    µg/ml    (n=7).1

Senyawa    utama    bawang    putih,    dialil    disulfida,    memberikan    efek    antiinflamasi    berupa    penurunan    produksi    nitrit    oksida    (NO)    disertai    penurunan    kadar    IL-1b    dan    IL-6    pada    sel    RAW    264.7    yang    distimulasi    dengan    lipopolisakarida    (LPS).    Senyawa    ini    juga    menurunkan    ekspresi    protein    proinflamasi    termasuk    nitrit oksida sintase (inducible nitric oxide synthase/ iNOS),    faktor    nuklear    (NF)-kB, dan    matriks    metaloproteinase    (MMP)-9,    serta    meningkatkan    ekspresi    protein    antioksidan    meliputi    Nrf-2    dan    hemeoksigenase    (HO)-1.2

Uji Pre Klinik In Vivo

Ekstrak    air    bawang    putih    konsentrasi    500    mg/ml    yang    diberikan    pada    tikus    albino    betina    (n=20)    dengan    dosis    100    mg/kg    BB    intraperitoneal    1    jam    sebelum    induksi    kerusakan    bronkus    dengan    lambda-cyhalothrin    (LTC)    dosis    9,34    mg/kg    BB    intraperitoneal    selama    21    hari    menunjukkan    penurunan    inflamasi    bronkus    menjadi    ringan-sedang    dibandingkan    dengan    kontrol    negatif.3

Senyawa    utama    bawang    putih,    dialil    disulfida,    dosis    30    dan    60    mg/kg    BB    yang    diberikan    pada    mencit    BALB/c    betina    (n=7)    1    jam    sebelum    induksi    asma    dengan    ovalbumin    
 20    µg    secara    intraperitoneal    menunjukkan    penurunan    jumlah    sel    inflamatori    pada    cairan    lavase    bronkoalveolar    (bronchoalveolar lavage fluid/BALF)    dengan    IL-4,    IL-5,    IL-13,    dan    immunoglobulin    (Ig)    E.    Senyawa    ini    juga    menginduksi    aktivasi    Nrf-2    dan    ekspresi    HO-1.    Sebaliknya,    menurunkan    aktivasi    NF-kB,    iNOS    dan    MMP-9.2

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.4

Uji Pre Klinik In Vitro

Ekstrak    etanol    air    bawang    putih    dosis    100,    500    dan    1.000    mg/kg    BB    selama    18    minggu    pada    tikus    Holtzman    jantan    yang    diinduksi    hipertensi    menggunakan    L-NAME    (NG-nitro-L argininmetil    ester,    50    mg/kg    BB,    intraperitoneal)    menunjukkan    efek    penurunan    tekanan    darah.    Efek    penurunan    tekanan    darah    ditunjukkan    oleh    penurunan    mean arterial pressure (MAP)    pada    pemberian    ketiga    dosis    tersebut    berturut-turut    sebesar    59,8%    (p=0,008),    80,6%    (p=0,021)    dan    88,5%    (p=0,034).    Sedangkan    kaptopril    100    mg/kg    BB    sebagai    pembanding    menunjukkan    penurunan    MAP    sebesar    99,9%    (p=0,437).1

Uji    antihipertensi    serbuk    bawang    putih    yang    diproses    secara    enzimatis    dan    liofilisasi    (mengandung    S-alil-L-sistein    75,3    g/100    g,    fenol    total    775    g/100    g)    pada    tikus    jenis    spontaneously hypertensive rats    (SHR)    dosis    30    dan    50    mg/kg    BB    perhari    secara    oral    selama    8    minggu    menunjukkan    penurunan    tekanan    darah    sistolik    dan    diastolik    secara    signifikan    namun    tidak    tergantung    dosis    pada    minggu    ke-4,    -6    dan    -8    dibandingkan    dengan    kontrol    (p<0,05).2

 

Uji Klinik

Kajian    sistematik    dan    meta    analisis    terhadap    7    hasil    uji    klinik    acak    dengan    kontrol    plasebo    yang    diperoleh    dari    database    elektronik    periode    tahun    1995-2014    terhadap    bawang    putih    menunjukkan    penurunan    signifikan    tekanan    darah    sistolik    dan    diastolik    sebesar    6,71    mmHg    (p=0,02)    dan    4,79    mmHg    (p<0,00001).    Tidak    dijumpai    adanya    efek    samping    serius    pada    penelitian    tersebut.3

Kajian    meta    analisis    terhadap    hasil    penelitian    yang    dilaporkan    dari    18    artikel    ilmiah    tentang    uji    klinik    acak    dengan    kontrol    plasebo    yang    diperoleh    dari    database    elektronik    periode    tahun    1946-2013    terhadap    bawang    putih    menunjukkan    bahwa    efek    antihipertensi    dari    tanaman    ini    bermakna    dibandingkan    kontrol    atau    plasebo    dalam    menurunkan    tekanan    darah.    Hasil    ini    ditunjukkan    oleh    sebagian    besar    dari    uji    klinik    tersebut.    Pada    kelompok    hipertensi    dan    normotensi    yang    diberikan    ekstrak    bawang    putih    menunjukkan    efek    penurunan    tekanan    darah    sistolik    dan    diastolik    sebesar    3,75    dan    3,39    mmHg    dibandingkan    kontrol    (p<0,001).    Sedangkan    pada    kelompok    hipertensi    saja    menunjukkan    efek    penurunan    tekanan    darah    sistolik    sebesar    4,4    mmHg,    tetapi    tidak    menunjukkan    penurunan    tekanan    darah    diastolik    dibandingkan    kontrol.4

Kajian    meta    analisis    terhadap    hasil    penelitian    yang    dilaporkan    dari    9    uji    klinik    acak    dengan    kontrol    plasebo    efek    antihipertensi    terhadap    bawang    putih    menunjukkan    penurunan    tekanan    darah    sistolik    dan    diastolik    sebesar    9,1    (p=0,0006)    dan    3,8    mmHg    (p=0,00001).5

Uji    klinik    bawang    putih    pada    pasien    hipertensi    menunjukkan    penurunan    tekanan    darah    sistolik    dan    diastolik    sebesar    kurang    lebih    10    dan    8    mmHg.6

 

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka,  misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya  matahari, serta jauh dari jangkuan anak-anak.7

Uji Pre Klinik In Vitro

Uji    in vitro aktivitas    antibakteri    ekstrak    air,    metanol    dan    etanol    bawang    putih    terhadap    bakteri    resisten    obat    ekstrak    Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Klebsiella pneumoniae, Shigella sonnei, Staphylococcus epidermidis dan Salmonella typhi dilakukan    menggunakan    metode    disc diffusion. Hasil    menunjukkan    ekstrak    air    bawang    putih    memiliki    aktivitas    paling    tinggi    dalam    menghambat    bakteri    uji,    kecuali    E. coli dan S. sonnei dengan    kadar    hambat    minimum    (KHM)    bervariasi    dari  
 0,05-1    mg/ml,    sedangkan    ekstrak    metanol    memiliki    aktivitas    paling    kecil    dalam    menghambat    bakteri    uji.1

Bawang    putih    mempunyai    aktivitas    antimikroba    terhadap    berbagai    jenis    mikroba    penyebab    penyakit    infeksi.    Hasil    penelitian    efek    antimikroba    secara    in vitro    menunjukkan    ekstrak    air    50    g/100    ml    dapat    menghambat    pertumbuhan    bakteri    Gram    positif    (Staphylococcus aureus, S. epidermidis, Streptococcus pneumoniae, S. pyogenes)    dan    Gram    negatif    (Haemophilus influenzae, Salmonella typhi, Escherichia coli, Shigella sp. dan Proteus sp.).    Rentang    konsentrasi    hambat    minimum    (KHM)    ekstrak    air    bawang    putih    terhadap    bakteri    Gram    positif    adalah    15,6-48,3    mg/ml    dengan    daerah    hambat    20,2-22,7    mm,    sedangkan    terhadap    bakteri    Gram    negatif    adalah    22,9-37,2    mg/ml    dengan    daerah    hambat    19,8-24,5    mm.2

Hasil    penelitian    lain    menunjukkan    bahwa    minyak    bawang    putih    mempunyai    aktivitas    terhadap    Helicobacter pylori    (bakteri    penyebab    infeksi    pada    saluran    pencernaan)    dengan    KHM    32,4    µg/ml.3

Aktivitas    antimikroba    jus    bawang    putih    terhadap    Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolyticus, Klebsiela    sp.,    Shigella dysentriae dan Candida albicans akan berkurang    karena    pengaruh    pemanasan,    penyimpanan    dan    pemaparan    pada    sinar    ultraviolet.    Sangat    dianjurkan    untuk    menggunakan    jus    bawang    putih    yang    segar    apabila    diinginkan    aktivitas    antimikrobanya.4
Senyawa    kimia    yang    mempunyai    aktivitas    antimikroba    dari        bawang    putih    adalah    senyawa    sulfur    teroksigenasi    alisin.    Alisin    dibentuk    oleh    prekursor    yang    stabil    yaitu    aliin    dengan    bantuan    enzim    alinase.    Mekanisme    antimikroba    alisin    adalah    menghambat    aktivitas    enzim    yang    mengandung    tiol    dari        bakteri.        Alisin    sebagai    antibakteri    utama    dari    bawang    putih    lebih    stabil    dalam    etanol    20%    dibandingkan    dalam    air,    dan    sangat    tidak    stabil    dalam    minyak    nabati    dengan    waktu    paruh    0,8    jam    diperhitungkan    berdasarkan    atas    aktivitas    antibakterinya    terhadap    Escherichia coli dan    3,1    jam    berdasarkan    analisis    kromatografi.    Dalam    ekstrak    air    ataupun    alkohol,    waktu    paruh    aktivitas    biologinya    lebih    lama    daripada    waktu    paruh    kimiawinya,    hal    ini    memberi    gambaran    bahwa    terdapat    senyawa    antibakteri    dalam    bawang    putih    selain    alisin.5

Emulsi    minyak    atsiri    bawang    putih    konsentrasi    5%    menggunakan    metode    difusi    agar    (cup plate)    dengan    mengukur    zona    hambat,    menunjukkan        aktivitas    antibakteri    dan    anti    jamur    secara    bermakna    terhadap    bakteri    Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Pseudomonas aeroginosa,    dan    jamur    Candida albicans, Aspergillus niger, Cryptococcus neoformans    dengan    pembanding    siprofloksasin    (100    µg/ml)    untuk    bakteri    dan    amfoterisin    B    (100    µg/ml)    untuk    jamur.    Sediaan    gel    minyak    atsiri    juga    menunjukkan    aktivitas    signifikan    terhadap    bakteri    patogen    kulit    bila    dibandingkan    dengan    obat    standar    placentrex    gel    10%.    Basis    gel    karbopol    tidak    menunjukkan    aktivitas    antimikroba.    Aktivitas    antijamur    di    kulit    khususnya    C. albicans sebanding    dengan    obat    standar    pada        konsentrasi    yang    sama.6

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.7

Uji Pre Klinik In Vitro

Ekstrak    air    bulbus    bawang    putih    segar    (100    g/250    ml)    dosis    10    ml/kg    BB/hari    peroral    selama    30    hari    yang    diberikan    pada    tikus    albino    galur    Sprague-Dawley    jantan    (n=6)    yang    diinduksi    diabetes    menggunakan    streptozotosin    dosis    65    mg/kg    BB    secara    intraperitoneal,    menunjukkan    penurunan    kadar    glukosa    darah    sebelum    perlakuan    dan    setelah    30    hari    perlakuan    (hari    ke-31)    sebesar    55%    yang    berbeda    secara    signifikan    dibanding    kontrol    negatif    tikus    diabetes    (p<0,001).1

Ekstrak    etanol    bulbus    bawang    putih    kering    dosis    500    mg/kg    BB    perhari    secara    oral    selama    14    hari    yang    diberikan    pada    tikus    albino    galur    Wistar    (n=6)    yang    diinduksi    diabetes    menggunakan    streptozotosin    dosis    50    mg/kg    BB    secara    intraperitoneal,    menunjukkan    penurunan    kadar    glukosa    darah    sebelum    perlakuan    dan    setelah    14    hari    perlakuan    sebesar    49%    yang    berbeda    secara    signifikan    dibanding    kontrol    negatif    tikus    diabetes    (p<0,01).2

 

Uji Klinik

Uji    klinik    acak    tersamar    tunggal    dengan    kontrol    plasebo    terhadap    kombinasi    tablet    bawang    putih    300    mg    dengan    pengobatan    standar    metformin    500    mg    tiga    kali    sehari    pada    pasien    diabetes    tipe    2    (n=60)    selama    24    minggu,    memperlihatkan    bahwa    pada    minggu    ke-24    kombinasi    tablet    bawang    putih    dan    metfromin    dapat    menurunkan    kadar    gula    darah    puasa    sebesar    2,18%    yang    berbeda    secara    signifikan    dibanding    kelompok    yang    hanya    memperoleh    metformin    sebesar    0,59%    (p<0,005).3

Uji    klinik    tidak    tersamar    prospektif    komparatif    terhadap    kombinasi    kapsul    bawang    putih    250    mg    dengan    pengobatan    standar    metformin    500    mg    2-3    kali    sehari    setelah    makan    pada    pasien    diabetes    tipe    2    (n=30)    selama    12    minggu,    memperlihatkan    bahwa    kombinasi    kapsul    bawang    putih    dan    metformin    dapat    menurunkan    secara    signifikan    kadar    gula    darah    puasa    rata-rata    sebesar    29,8    mg/dL    (p<0,001)    dibanding    kelompok    yang    hanya    memperoleh metformin    sebesar    21,33    mg/dl    (p<0,001).    Pemberian    kombinasi    dan    metformin    tunggal    memperlihatkan    rata-rata    penurunan    secara    signifikan    kadar    HbA1c    masing-masing    sebesar    0,24    dan    0,35%    dibandingkan    sebelum    perlakuan    (p<0,001).4

Uji    klinik    acak    dengan    kontrol    pada    total    59    pasien    diabetes    tipe    2    terhadap    kapsul    lunak    minyak    bawang    putih    500    mg    yang    diberikan    peroral    2    kali    sehari    dengan    makan    selama    12    minggu    pada    33    pasien    disertai    diet    sebagai    terapi    standar,    memperlihatkan    bahwa    pemberian    kapsul    lunak    minyak    bawang    putih    dapat    menurunkan    secara    signifikan    kadar    gula    darah    puasa    dan    gula    darah    2    jam    setelah    makan    rata-rata    sebesar    14    dan    7%    dibanding    kelompok    yang    hanya    diberi    perlakuan    diet    (p<0,01).5

 

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka,  misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya  matahari, serta jauh dari jangkuan anak-anak.6

Uji Pre Klinik In Vivo

Fraksi    n-butanol    dari    ekstrak    etanol    60%    serbuk    kering    bulbus    bawang    putih    dosis    
 20    mg/kg    BB    peroral    dan    kontrol    positif    furosemid    dosis    20    mg/kg    BB    peroral    yang    diberikan    pada    tikus    albino    galur    Wistar    (n=5),    memperlihatkan    percepatan    waktu    mulai    berkemih,    meningkatkan    volume    urin    dan    meningkatkan    ekskresi    Na+    masing-masing    sebesar    24,57    dan    132,65%    yang    berbeda    signifikan    dibandingkan    kontrol    negatif.1

Kapsul    serbuk    kering    bawang    putih    dosis    2,5;    5;    10;    15    dan    20    mg/kg    BB,    peroral    yang    diberikan    pada    anjing    yang    dianastesi    dengan    natrium    pentobarbiton    (dosis    30    mg/kg    BB,    intravena)    menunjukkan    aktivitas    natriuretik    dan    diuretik    secara    signifikan    dan    tergantung    dosis    serta    mencapai    aktivitas    maksimum    setelah    30-40    menit    setelah    pemberian    kapsul    dosis    15    mg/kg    BB    yang    kembali    ke    level    basal    setelah    100-120    menit.2

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.3

Uji Pre Klinik In Vivo

Bawang    putih    dosis    0,25    g/kg    BB/hari    peroral    pada        tikus    (n=10)    yang    diberikan    bersamaan    dengan    penginduksi    hepatotoksik    isoniazid    (50    mg/kg    perhari    peroral)    selama    28    hari,    menunjukkan    aktivitas    hepatoprotektor    yang    diperlihatkan    oleh    paramater    biokimia    darah    (ALT,    AST,    ALP    dan    bilirubin)    yang    kembali    ke    nilai    normal    dibandingkan    kontrol    negatif.1

Ekstrak    metanol    bawang    putih    dosis    200,    300    dan    450    mg/kg    BB    perhari    secara    oral    selama    12    minggu    diberikan    pada    tikus    albino    jantan    (n=3)    yang    mulai    4    hari    setelah    induksi    hepatotoksik    parasetamol    dosis    tunggal    750    mg/kg    BB    secara    intraperitoneal,    dengan    kontrol    positif    silimarin    dosis    100    mg/kg    BB.    Hasil    menunjukkan    penurunan    secara    signifikan    terhadap    kadar    ALT    sampai    maksimal    24,28%    (silimarin    30,15%);    AST    44,93%    (62,26%);    ALP    54,75%    (75,70%);    LDH        45,94%    (63,08%)    dan    bilirubin    serum    total    71,15%    (82,35%)    (p<0,05).2

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering, di dalam wadah yang sedikit terbuka, misalnya wadah yang terbuat dari anyaman rotan, terhindar dari cahaya matahari, serta jauh dari jangkauan anak-anak.3

Kandungan Kimia

Bawang putih mengandung karbohidrat (fruktan), saponin (glikosida furostanol: sativin, proto-erubin B), dan senyawa organik yang mempunyai atom sulfur. Kandungan utama bawang putih utuh adalah γ-glutamil-S-alil-L-sistein dan S-alil-L-sistein sulfoksida (aliin).

Apabila bawang putih diiris, aliin mengalami degradasi oleh enzim aliinase (S-alkil-L-sisteine liase) menjadi asam piruvat dan asam 2-propen sulfenat yang kemudian mengalami transformasi menjadi alisin (dialiltiosulfi nat) dengan kadar 0,3% dihitung terhadap bawang putih segar. Jika bawang putih dibuat ekstrak air, γ-glutamil-Salil- L-sistein dikonversi menjadi S-alil-sistein melalui transformasi enzimatik dengan γ-glutamiltranspeptidase. Pengolahan bawang putih mengakibatkan terbentuknya senyawa tiosulfi nat, contohnya alisin, melalui reaksi enzimatik sistein sulfoksida tersubstitusi. Senyawa tiosulfi nat yang lain adalah alilmetil-metilalil- dan trans-1-propenil-tiosulfi nat. Di dalam ekstrak etanol bawang putih ditemukan juga senyawa hasil kondensasi alisin yaitu 6Z-ajoen dan 6E-ajoen (4,5,9-tritiadodeka- 1,6,11-trien-9-S-oksida) dan viniltiin. Destilasi bawang putih dalam vakum, diperoleh komponen utama alisin dalam konsentrasi tinggi (80-90%).
1-3

Senyawa Identitas
Alisin 4
 

Bahan Baku

ekstrak kental umbi lapis bawang putih, yaitu ekstrak yang dibuat dari
umbi Alium sativum L, suku Liliaceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,05%1

Formulasi

Tiap kapsul mengandung:
Ekstrak kental umbi lapis bawang putih 200 mg
Pengisi 425 mg

Cara Pembuatan Sediaan

Timbang ekstrak kental umbi lapis bawang putih, pengisi masing-masing sejumlah yang diperlukan sesuai formula.
Encerkan ekstrak kental umbi lapis bawang putih dengan alkohol 70% secukupnya sampai larut dan tambahkan pengisi ayak dan keringkan dengan oven pada suhu 40-60°, ayak dengan ukuran mesh yang sesuai, masukkan ke dalam cangkang kapsul dengan ukuran yang sesuai.
Periksa keseragaman bobot kapsul dan masukkan kapsul dalam wadah tertutup rapat.

INFORMASI UMUM TUMBUHAN OBAT
  1. Anonim.    Allium sativum    L.    [Internet].    [cited    2015    Oct    9].    Available    from:    http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/ SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=42652
  2. Heyne    K.    Tumbuhan    berguna    Indonesia.    Departemen    Kehutanan;    1988.    524    p.    
  3. Sulistiarini    D,    Djamal    J,    Raharjo.    Allium sativum    L.    de    Padua    LS,    Bunyapraphatsara,    N.    and    Lemmens    RHMJ,    editor.    Leiden,    The    Netherlands:    Backhuys    Publisher;    1999.    
  4. Anonim.    Direktori    rempah    Indonesia.    Jakarta:    Dewan    Rempah    Indonesia,    Koperasi    Nusantara;    2011.    
  5. Sugati    S.    Inventarisasi    tanaman    obat    Indonesia    (I).    Jakarta:    Departemen    Kesehatan    Republik    Indonesia,    Badan    Penelitian    dan    Pengembangan    Kesehatan;    1991.    
  6. Anonim.    Tumbuhan    bawang    putih    (    Allium sativum    L.)    [Internet].    [cited    2015    Dec    9].    Available    from:    http:// ruh4dian.blogspot.co.id/2014/09/tumbuhan-bawang-putih.html
  7. Siemonsma    J,    Piluek    K.    Plant    resources    of    South    East    Asia    (Prosea),    no.    8,    vegetables.    Wageningen,    The    Netherlands;    1993.
BUDIDAYA
  1. Sarwadana    SM,    Gunadi    IGA.    Potensi    pengembangan    bawang    putih    (Allium sativum    L.)    dataran    rendah    varietas    lokal    Sanur.    Agritrop.    2007;26(1):19–23.    
  2. Setiawati    W,    Murtiningsih    R,    Sopha    GA,    Handayani    T.    Petunjuk    teknis    budidaya    tanaman    sayuran.    Balai    Penelitian    Tanaman    Sayuran,    Pusat    Penelitian    dan    Pengembangan    Hortikultura,    Badan    Penelitian    dan    Pengembangan    Pertanian;    2007.    
  3. Hilman    Y,    Hidayat    A,    Suwandi.    Budidaya    bawang    putih    di    dataran    tinggi.    Balai    Penelitian    Tanaman    Sayuran,    Pusat    Penelitian    Dan    Pengembangan    Hortikultura,    Badan    Penelitian    dan    Pengembangan    Pertanian;    1997.    
  4. Basuki    ANN.    Umbi    Bawang    Putih.    Direktorat    Obat    Asli    Indonesia,    Badan    Pengawas    Obat    dan    Makanan    Republik    Indonesia;    2011.    
  5. Ni    Made    G    Awdep    A.    Perbanyakan    in vitro    tanaman    bawang    putih    (Allium sativum    L.)    varietas    lumbu    putih    melalui    induksi    tunas    adventif.    Bul    Agron.    1996;24(1):15–20.   
PROFIL KEAMANAN
  1. Mikail H. Phytochemical screening, elemental analysis and acute toxicity of aqueous extract of Allium sativum L. bulbs in experimental rabbits. J Med Plants Res. 2010;4(4):322–6.
  2. Gatsing D, Aliyu R, Kuiate J, Garba I, Jaryum K, Tedongmo N et al. Toxicological evaluation of the aqueous extract of Allium sativum bulbs on laboratory mice and rats. Cameroon J Exp Biol. 2006;1(1):39–45.
  3. Sumiyoshi H, Kanezawa A, Masamoto K, Harada H, Nakagami S, Yokota A, et al. Chronic toxicity test of garlic extract in rats. J Toxicol Sci. 1984;9(1):61–75.
  4. Schimmer O, Krüger A, Paulini H, Haefele F. An evaluation of 55 commercial plant extracts in the Ames mutagenicity test. Pharmazie. 1994;49(6):448–51.
  5. Zhang Y, Chen X, Yu Y. Antimutagenic effect of garlic (Allium sativum L.) on 4NQO-induced mutagenesis in Escherichia coli WP2. Mutat Res Lett. 1989;227(4):215–9.
  6. Ziaei S, Hantoshzadeh S, Rezasoltani P, Lamyian M. The effect of garlic tablet on plasma lipids and platelet aggregation in nulliparous pregnants at high risk of preeclampsia. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol.2001;99(2):201–6.
  7. Kao S-H, Hsu C-H, Su S-N, Hor W-T, Chow L-P. Identification and immunologic characterization of an allergen, alliin lyase, from garlic (Allium sativum). J Allergy Clin Immunol. 2004;113(1):161–8.
  8. Almogren A, Shakoor Z AM. Garlic and onion sensitization among saudi patients screened for food allergy: a hospital based study. Afr Health Sci. 2013;13(3):689–93.
  9. Borrelli F, Capasso R, Izzo A. Garlic (Allium sativum L.): adverse effects and drug interactions in humans. Mol Nutr Food Res. 2007;51(11):1386–97.
  10. Mennella J, Beauchamp G. The effects of repeated exposure to garlic-flavored milk on the nursling’s behavior. Pediatr Res. 1993;34(6):805–8.
  11. Tracy TS, Kingston RL. Herbal products: toxicology and clinical pharmacology. 2nd edition. New Jersey: Humana Press; 2007: p.123-150.
  12. McCoubrie M. Doctors as patients: lisinopril and garlic. Br J Gen Pr. 1996;46(403):107.
  13. Dhamija P, Malhotra S, Pandhi P. Effect of oral administration of crude aqueous extract of garlic on pharmacokinetic parameters of isoniazid and rifampicin in rabbits. Pharmacology. 2006;77(2):100–4.
AKTIVITAS FARMAKOLOGI
Afrodisiaka
  1. Mullaicharam    A,    Karthikeyan    B,    Umamaheswari    R.    Aphrodisiac    property    of    Allium sativum    Linn.    extract    in    male    rat.    Hamdard    Med.    2004;47:30–5.   
  2. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.
Analgetik
  1. Jayanthi M, Jyoti M. Experimental animal studies on analgesic and anti-nociceptive activity of Allium sativum
  2. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.
Anthelmentik
  1. Kumar    P,    Singh    D.    In vitro    anthelmintic    activity    of    Allium sativum,    Ferula asafoetida,    Syzygium    aromaticum    and    their    active    components    against    Fasciola    gigantica.    J    Biol    Earth    Sci.    2014;4(1):B57–65.   
  2. Singh    T,    Kumar    D,    Tandan    SK.    Paralytic    effect    of    alcoholic    extract    of    Allium sativum and Piper longum    on    liver    amphistome,    Gigantocotyle    explanatum.    Indian    J    Pharmacol.    2008;40(2):64.   
  3. Worku    M,    Franco    R,    Baldwin    K.    Efficacy    of    garlic    as    an    anthelmintic    in    adult    Boer    goats.    Arch    Biol    Sci.    2009;61(1):135–40.
  4. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.
Agregasi Platelet
  1. Cavagnaro    P,    Camargo    A,    Galmarini    C,    PW    S.    Effect    of    cooking    on    garlic    (Allium sativum    L.)    antiplatelet    activity    and    thiosulfinates    content.    J    Agric    Food    Chem.    2007;55(4):1280–8.  
  2. Fukao    H,    Yoshida    H,    Tazawa    Y,    Hada    T.    Antithrombotic    effects    of    odorless    garlic    powder    both    in vitro and in vivo.    Biosci    Biotechnol    Biochem.    2007;71(1):84–90.
  3. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.
Antihipertensi
  1. Chaupis-Meza    D,    Rojas    J,    Gasco    M,    Gonzales    G.    Efecto    hipotensor    del    extracto    de    ajo    (Allium sativum)    macerado    por    18    semanas    en    un    modelo    experimental    in vivo.    Rev    Peru    Med    Exp    Salud    Publica.    2014;31(3):461–6.    
  2. Han    C-H,    LIu    J-C,    Chen    K-H,    Lin    Y-S,    Chen    C-T,    Fan    C-T        et    al.    Antihypertensive    activities    of    processed    garlic    on    spontaneously    hypertensive    rats    and    hypertensive    humans.    Bot    Stud.    2011;52(3):277–83.    
  3. Xiong    X,    Wang    P,    Li    S,    Li    X,    Zhang    Y,    Wang    J.    Garlic    for    hypertension:    a    systematic    review    and    meta-analysis    of    randomized    controlled    trials.    Phytomedicine.    2015;22(3):352–61.    
  4. Wang    H,    Yang    J,    Qin    L,    Yang    X.    Effect    of    garlic    on    blood    Pressure:    a    meta    analysis.        J    Clin    Hypertens.    2015;17(3):223– 31.    
  5. Rohner    A,    Ried    K,    Sobenin    I,    Bucher    H,    Nordmann    A.    A    systematic    review    and    metaanalysis    on    the    effects    of    garlic    preparations    on    blood    pressure    in    individuals    with    hypertension.    Am    J    Hypertens.    2015;28(3):414–23.    
  6. Ried    K,    Fakler    P.    Potential    of    garlic    (Allium sativum)    in    lowering    high    blood    pressure:    mechanisms    of    action    and    clinical    relevance.    Integr    Blood    Press    Control.    2014;7:71.
  7. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.
Antimikroba
  1. Gull    I,    Saeed    M,    Shaukat    H,    Aslam    S,    Samra    Z,    AM    A.    Inhibitory    effect    of    Allium sativum and Zingiber officinale extracts    on    clinically    important    drug    resistant    pathogenic    bacteria.    Ann    Clin    Microbiol    Antimicrob.    2012;11(8):1– 6.    
  2. Iwalokun    B,    Ogunledun    A,    Ogbolu    D,    Bamiro    S,    Jimi-Omojola    J.    In vitro    antimicrobial    properties    of    aqueous    garlic    extract    against    multidrug-resistant    bacteria    and    candida    species    from    Nigeria.    ournal    Med    food.    2004;7(3):327– 33.    
  3. O’Gara    E,    Maslin    D,    Nevill    A,    Hill    D.    The    effect    of    simulated    gastric    environments    on    the    antihelicobacter    activity    of    garlic    oil.    J    Appl    Microbiol.    2008;104(5):1324–31.    
  4. Al-Waili    NS,    Saloom    KY,    Akmal    M,    Al-Waili    TN,    Al-Waili    AN,    Al-Waili    H        et    al.    Effects    of    heating,    storage,    and    ultraviolet    exposure    on    antimicrobial    activity    of    garlic    juice.    J    Med    Food.    2007;10(1):208–12.    
  5. Aydin    A,    Bostan    K,    Erkan    M,    B    B.    The    antimicrobial    effects    of    chopped    garlic    in    ground    beef    and    raw    meatball    (cig    köfte).    J    Med    Food.    2007;10(1):203–7. 
  6. Bodhankar    M,    Patil    A.    Antimicrobial    and    antifungal    activity    of    volatile    oil    based    gel    formulation    of    Allium sativum against    skin    pathogens.    Int    J    Res    Pharm    Biomed    Sci.    2011;2(3):1079–81.   
  7. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.  
Antiasma
  1. Fehri    B,    Ahmed    M,    Aiache    J-M.    The    relaxant    effect    induced    by    Allium sativum    L.    bulb    aqueous    extract    on    rat    isolated    trachea.    Pharmacogn    Mag.    2011;7(25):14.  
  2. Shin    I-S,    Hong    J,    Jeon    C-M,    Shin    N-R,    Kwon    O-K,    H-S    K,    et    al.    Diallyl-disulfide,    an    organosulfur    compound    of    garlic,    attenuates    airway    inflammation    via    activation    of    the    Nrf-2/HO-1    pathway    and    NF-kappaB    suppression.    Food    Chem    Toxicol.    2013;62:506–13.    
  3. El-Din    MMM,    Mostafa    AM    A-EA.    Experimental    studies    on    the    effect    of    (lambda-cyhalothrin)    insecticide    on    lungs    and    the    ameliorating    effect    of    plant    extracts    (ginseng    (Panax ginseng)    and    garlic    (Allium sativum    L.))    on    asthma    development    in    albino    rats.    BMC    Res    Notes.    2014;7(1):243.   
  4. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.  
Diabetes Mellitus
  1. Chandra    A,    Mahdi    A,    Ahmad    S,    Singh    R.    Indian    herbs    result    in    hypoglycemic    responses    in    streptozotocin-induced    diabetic    rats.    Nutr    Res.    2007;27(3):161–8.    
  2. Shakya    V,    Saxena    R,    Shakya    A.    Effect    of    ethanolic    extract    of    Allium sativum    bulbs    on    streptozotocin    induced    diabetic    rats.    J    Chem    Pharm    Res.    2010;2(6):171–5.   
  3. Ashraf    R,    Khan    R,    I    A.    Garlic    (Allium sativum)    supplementation    with    standard    antidiabetic    agent    provides    better    diabetic    control    in    type    2    diabetes    patients.    Pak    J    Pharm    Sci.    2011;24:565–70.   
  4. Chhatwal    S,    Sharma    R,    Khurana    A.    To    study    the    antihyperglycaemic    and    lipid    lowering    effect    of    garlic    as    an    adjunct    to    metformin    in    patients    of    type    2    diabetes    mellitus    with    obesity.    Int    J    Basic    Clin    Pharmacol.    2012;1(1):22–6.   
  5. AR    M.    Effect    of    garlic    oil    (Allium sativum)    on    glycaemic    control    and    lipid    profile    in    patients    with    type    2    diabetes    mellitus.    Kufa    MedJournal.    2011;15(1):47–56.   
  6. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357. 
Diuretik
  1. Tiwari    S,    Sirohi    B,    Shukla    A,    Bigoniya    P.    Phytochemical    screening    and    diuretic    activity    of    Allium sativum    steroidal    and    triterpenoid    saponin    fraction.    nt    J    Pharm    Sci    Res.    2012;2(3):3354–61.    
  2. Pantoja    C,    Chiang    L,    Norris    B,    Concha    J.    Diuretic,    natriuretic    and    hypotensive    effects    produced    by    Allium sativum (garlic)    In    anaesthetized    dogs.    J    Ethnopharmacol.    1991;31:325–31
  3. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357. 
Hepatoprotektor
  1. Ilyas    N,    Sadiq    M,    Jehangir    A.    Hepatoprotective    effect    of    garlic    (Allium sativum)    and    milk    thistle    (silymarin)    in    isoniazid    induced    hepatotoxicity    in    rats.    Biomedica.    2011;27:166–70.   
  2. Jevas    CO,    Eyo    JE,    Clarence    K.    Investigation    of    the    antihepatotoxic    effects    of    Allium sativum    extracts    against    acetaminophen    intoxicated    rattus    novergicus.    World    J    Med    Sci.    2014;11(3):397–404. 
  3. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.345-357.   
FITOKIMIA

  1. Amagase H. Clarifying the real bioactive constituents of garlic. J of Nutri. 2006; 136: 716S-725S.
  2. Simonetti G. Simon & Schuster’s guide to herbs and spices, A fireside book. New York: Simon & Schuster; 1990.
  3. Bruneton J. Pharmacognosy, phytochemistry medicinal plants. 2nd Edition. Jakarta: PT Eisai Indonesia; 1995: p.284.
  4. Anonim.    Farmakope    herbal    Indonesia    edisi    I.    Jakarta:    Kementerian    Kesehatan    Republik    Indonesia;    2008