Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Glycyrrhiza glabra L.

Nama Indonesia

Akar Manis

Suku

Fabaceae

Deskripsi

Berupa terna menahun, tinggi lebih dari 1 m, batang tumbuh tegak, dengan pokok akar yang kuat, panjang pokok akar 15 cm, bercabang-cabang menjadi 3-5 bagian, panjang masing-masing bagian dapat mencapai 1,25 m, stolon yang berkembang dengan baik, panjang stolon dapat mencapai 8 m. Helaian daun majemuk menyirip tidak sempurna, terdiri atas 9-17 anak daun, tersusun berseling, bentuk helaian daun bulat memanjang sampai elips, lanset, pangkal runcing, ujung runcing atau tumpul. Bunga majemuk malai, karangan bunga tumbuh di daerah ketiak daun, panjang karangan bunga 10-15 cm. Kelopak bunga berbentuk lonceng dan berambut kelenjar, bagian ujung kelopak lebih panjang daripada tabung kelopak, ujung kelopak berbentuk lanset. Mahkota bunga sempit, mahkota anterior (lunas) tidak berlekatan, bagian ujung mahkota runcing berbentuk serupa paruh. Buah polong, pipih atau bentuk garis, panjang 1-3 cm, lebar 6 mm, mengandung sedikit atau banyak kelenjar. Biji berbentuk seperti ginjal, jumlah banyak atau jika buah pendek terdiri atas 2-3 biji.

Status Kelangkaan

Belum Dievaluasi

 

Nama Latin Simplisia

Glycyrrhizae Glabrae Radix (Akar Akar Manis)

Deskripsi Makroskopis

Glycyrrhiza glabra L. var. typica Regel & Herd., dikenal sebagai Spanish liquorice, terdiri atas akar dan rimpang dalam bentuk mendekati silindris, panjang lebih dari 1 m dan bergaris tengah 20 mm; kulit luar berwarna abu-abu kecokelatan sampai abu-abu cokelat tua, berkerut memanjang, kadang-kadang menghasilkan tunas kecil di bagian rimpang atau pada bagian akar yang luka; bagian dalam akar yang mengelupas berwarna kuning, halus, berserabut, beralur halus; bila akar dipatahkan tampak serabut yang memanjang di bagian kulit akar sampai di bagian kayu; pada bagian dalam berwarna kuning cerah; jaringan kambium berada diantara kulit luar yang berwarna abu-abu kekuningan dengan kayu berwarna kuning; bagian empulur hanya tampak pada bagian rimpangnya. Glycyrrhiza glabra L. var. glandulifera (Wald. et Kit.) Regel & Herd., dikenal sebagai Russian liquorice, terdiri atas akar, berbentuk silindris yang meruncing dan kadang-kadang bentuk memanjang dan terbelah atau merekah, panjang 15-40 cm, garis tengah 1-5 cm; garis tengah bagian akar yang membesar dapat mencapai 10 cm; bagian luar, kulit akar yang tidak mengelupas berwarna cokelat keunguan, agak bersisik dengan bekas luka di bagian pangkal akar; bagian dalam akar yang mengelupas berwarna kekuningan, beralur kasar; tipe patahan mirip dengan Spanish liquorice, keseluruhan bagian dalam kuning.

Kegunaan Empiris

Penggunaan akar yang dijelaskan dalam farmakope dan dalam sistem pengobatan tradisional tertentu yaitu: untuk sakit tenggorokan, ekspektoran pada batuk dan radang selaput lendir hidung, profilaksis dan pengobatan ulkus lambung dan duodenum, dispepsia, peradangan pada reaksi alergi, rematik, arthritis, mencegah keracunan hati, tuberkulosis dan adrenocorticoid insufisiensi; penggunaan empiris (folk medicine) adalah untuk pencahar, emmenagogue, kontrasepsi, galactagogue, asma, antivirus, perawatan karies gigi, batu ginjal, penyakit jantung, epilepsi, kehilangan nafsu makan, usus buntu, pusing, tetanus, difteri, gigitan ular dan wasir.1

Toksisitas Akut

 

Uji toksisitas akut ekstrak air akar akar manis terhadap mencit albino memperlihatkan tidak terjadi kematian hewan uji akibat gejala keracunan sampai dosis 2000 mg/kg BB secara peroral.1
Uji toksisitas akut ekstrak metanol 80% daun G. glabra var. glandulifera terhadap mencit NMRI jantan diperoleh nilai LD50 sebesar 3,03 g/kg BB secara intraperitoneal.2
 
Uji toksisitas akut ekstrak metanol akar akar manis terhadap tikus Swiss albino jantan dan betina sampai dosis 2,5 g/kg BB tidak ditemukan kematian serta perubahan fisik dan makroskopik setelah dilakukan otopsi. Pada dosis tinggi memperlihtakan gejala toksik yang ringan pada hewan coba, tetapi kembali menjadi normal setelah periode pengamatan.3

Toksisitas Kronis

Polisakarida dari biji asam jawa (Glyloid) kadar 4, 8, 12% diberikan peroral pada tikus jantan dan betina selama 2 tahun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap perilaku, mortalitas, berat badan, dan histopatologi. Pada semua kelompok termasuk kelompok kontrol, terlihat penyakit-penyakit spontan terkait penuaan, seperti perubahan miokardial, nefropati, tumor payudara (betina), tumor kelenjar pituitari sebagai penyebab kematian.2

Uji Mutagenisitas

 

 

tion Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false" UnhideWhenUsed="false"–>

Efek yang Tidak Diinginkan

Pada dosis rendah atau dosis yang biasa dikonsumsi menimbulkan sedikit efek samping, seperti gangguan penglihatan dan hipersensitifitas. Konsumsi jangka panjang ekstrak herba dan akar dapat menimbulkan efek samping antara lain hipertensi, edema, gangguan jantung, pseudohiperaldosteronisme dengan hiperkortisolisme, retensi natrium atau gangguan berat kesetimbangan elektrolit seperti hipernatremia dan hipokalemia, yang mengakibatkan hipotonia, kelemahan otot, flaccid paralysis, dan mioglobinuria pada beberapa kasus.2, 3

Penggunaan lama pada dosis besar (50 g/hari) selama lebih dari enam minggu dapat meningkatkan akumulasi air, menyebabkan pembengkakan pada tangan dan kaki. Ekskresi natrium diturunkan dan ekskresi kalium ditingkatkan. Tekanan darah mungkin akan meningkat.1

Peringatan

Akar manis tidak boleh diminum lebih dari 6 minggu berturut-turut. Sebaiknya tidak digunakan dalam jangka waktu lama pada anak-anak, wanita hamil dan menyusui.1

Interaksi Obat

Oleh karena adanya peningkatan kehilangan kalium, seharusnya tidak diberikan untuk penggunaan lama dengan glikosida atau diuretik thiazid, digitalis glikosida, obat-obat antiaritmia seperti kuinidin, serta kortikosteroid. Keefektifan obat yang digunakan pada perawatan hipertensi mungkin akan berkurang karena adanya penurunan ekskresi natrium dan air serta seharusnya tidak diberikan bersamaan dengan spironolakton dan amilorid.1

Uji Pre Klinik In Vitro

Ekstrak air akar dan rimpang akar manis dosis 150 dan 300 mg/kg BB  diberikan pada tikus jantan Wistar peroral selama 28 hari menunjukkan peningkatan frekuensi mounting (jumlah tunggangan sebelum ejakulasi)
dan frekuensi kawin sebesar 130 dan 164,73% serta 50 dan 150%, serta menurunkan waktu latensi mounting (mounting latency) dan waktu latensi kawin (intromission latency) sebesar 115,90 dan 64,42% serta 34,80 dan 48,20% secara signifikan dibandingkan kontrol.7

Penyiapan dan Dosis

Dosis rata-rata tiap hari 5-15 g/hari sebanding dengan 200-600 mg glisirizin. Pemakaian diseduh dengan air panas atau direbus selama 10-15 menit, diminum setelah makan. Tidak boleh digunakan selama lebih dari 4-6 minggu tanpa petunjuk dokter.1, 5

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup
rapat, jauh dari jangkauan anak-anak

Uji Pre Klinik In Vitro

Glabridin dan glabren merupakan flavonoid yang terkandung dalam akar manis dan diduga memiliki aktivitas mirip estrogen. Pemberian glabridin dan glabren dosis 3000 nM pada sel tulang wanita yang belum menopause maupun yang sudah menopause secara in vitro meningkatkan aktivitas kreatinin kinase. Pemberian Glabridin dan glabrene dosis 2,5-250 µg/hari selama 3 hari pada tikus betina galur Wistar berumur 25 hari menunjukkan peningkatan aktivitas kreatinin kinase pada diaphyseal bone dan epiphyseal cartilage. Sedangkan pemberian glabridin dosis 100 µg pada tikus betina yang di-ovariektomi juga menunjukkan peningkatan aktivitas kreatinin kinase. Penelitian ini menunjukkan bahwa glabridin merupakan suatu fitoestrogen yang memiliki aktivitas memperbaiki jaringan sel tulang.1

Ekstrak air akar tumbuhan akar manis terstandar dosis 250 mg tiga kali sehari yang diberikan secara peroral kepada 29 wanita menopause (usia ±50.5 tahun) menunjukkan adanya penurunan gejala panas pada muka (hot flashes), KI (Kupperman Index) dan follicle stimulating hormone (FSH) serta terjadi peningkatan hormon estradiol secara signifikan.2

Pemberian ekstrak akar tumbuhan akar manis dosis 330 mg 3 kali sehari kepada 90 wanita menopause selama 8 minggu menunjukkan adanya penurunan kejadian dan tingkat keparahan gejala panas pada muka hingga 2 minggu setelah perlakuan dihentikan, sementara pada plasebo 1 minggu setelah perlakuan dihentikan.3

Penyiapan dan Dosis

Dosis rata-rata tiap hari 5-15 g/hari sebanding dengan 200-600 mg glisirizin. Pemakaian diseduh dengan air panas atau direbus selama 10-15 menit, diminum setelah makan. Tidak boleh digunakan selama lebih dari 4-6 minggu tanpa petunjuk dokter.4,6

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup
rapat, jauh dari jangkauan anak-anak

Uji Pre Klinik In Vitro

Glycyrrhizae Radix mengandung glisirisin yang dapat digunakan untuk pengobatan hepatitis, berdasarkan percobaan in vitro glisirisin mampu menurunkan aktivitas SGPT sebesar 15% pada kadar 0,1 mg/ml dan 70% pada kadar 1 mg/ml. Asam glisiretinat mampu menurunkan aktivitas SGPT 61% pada kadar 0,1 mg/ml dan 91% pada kadar 1 mg/ml. Dari data di atas terlihat bahwa aglukonnya (asam glisiretinat) lebih kuat daya antihepatotoksiknya dibandingkan dengan bentuk glikosidanya (glisirisin).

Uji klinik pada 13 pasien hepatitis kronik diatas usia 62 tahun, menunjukan ekstrak air dari rimpang dan akar Glicyrrhiza dosis 5 gram! hari selama 6 bulan memiliki aktivitas antihepatotoksik.

Penyiapan dan Dosis

Dosis rata-rata tiap hari dari Glycyrrhizae Radix 5 sampai 15 gram sebanding dengan 200-600 mg glisirisin, diseduh dengan air panas atau dire bus selama 10-15 menit, diminum setelah makan.

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup
rapat, jauh dari jangkauan anak-anak

Uji Pre Klinik In Vitro

Akamya mengandung beberapa komponen antitukak, dimana dulu penelitian lebih difokuskan pada asam glisiretinat tetapi penelitian terkini menunjukkan bahwa ekstrak deglycyrrhizinated licorice (DGL) lebih efektif dalam menangani tukak lambung dan tidak memiliki efek samping. Ekstrak air dan alkohol yang diberikan pada tikus secara intraperitonial, intraduodenal dan oral memiliki efek proteksi terhadap tukak lambung yang diinduksi oleh aspirin dan ibuprofen dan dapat meningkatkan laju sekresi mukosa.Akamya juga memiliki kemampuan untuk melepaskan sekretin yang merupakan mediator antitukak. Carbenoxolone (merupakan turunan suksinat dari asam glisiretinat), memiliki aktivitas mempercepat penyembuhan tukak lambung.
Pemberian secara oral kepada 15 orang pasien tukak lambung dapat mengurangi gejala tukak dan mempercepat penyembuhan sebesar 75%. Asam gliseritinat (enoxolone), merupakan komponen aktif yang berperan dalam efek antitukak dengan cara menghambat enzim 15- hidroksiprostaglandin dehidrogenase dan deltal3-prostaglandin reduktase. Hambatan pada kedua enzim ini dapat menstimulasi dan meningkatkan konsentrasi prostaglandin E dan E2a pada saluran pencemaan yang berfungsi untuk meningkatkan proses penyembuhan tukak lambung. Penelitian dilakukan dengan kontrol buta ganda yang melibatkan 34 pasien untuk membandingkan penggunaan carbenoxolone dengan pirenzepin dalam penanganan tukak lambung kronis. Carbenoxolone diberikan 300 mg/ hari selama 1 minggu, kemudian dilanjutkan dengan dosis 150 mg/hari selama 5 minggu. Pirenzepin diberikan dosis 150 mg/hari selama 6 minggu. Hasil menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara pemberian carbenoxolone dengan pirenzepin dimana kelompok carbenoxolon dapat menyembuhkan tukak sebesar 52 % dan kelompok pirenzepin sebesar 59%.

Penyiapan dan Dosis

Untuk tukak lambung: Dosis 200-600 mg secara oral dan dikonsumsi tidak lebih dari 4- 6 minggu. Dapat juga dibuat teh dengan cara menuangkan 2-4 gram ke dalam 12 gelas air mendidih dan diaduk selama 5 menit. Dinginkan dan saring, kemudian minum 3 kali sehari setelah makan.

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup
rapat, jauh dari jangkauan anak-anak

Kandungan Kimia

Kandungan utama adalah saponin triterpen dengan komponen utama glisirizin (asam glisirizat, asam glisirizinat), sedangkan komponen minor proporsinya dapat berbeda tergantung pada jenis dan lokasi geografis. Glisirizin terbentuk dari campuran kalium dan garam kalsium (monodesmosida) yang jika terhidrolisis melepaskan dua molekul yaitu

D-asam glukuronat dan aglikon asam glisiretinat (enoksolon). Glisirizin umumnya dianggap senyawa yang bertanggung jawab terhadap rasa manis (50 kali sukrosa). Selain itu kandungan lainnya antara lain flavonoid: liquiritigenin dan isoliquiritigenin; Isoflavonoid: aglikon formononetin, glabren, glabridin, glabrol, 3-hydroksigIabrol, glisirizoflavon.1 Hasil analisa terhadap ekstrak metanol akar tumbuhan akar manis menunjukkan adanya 8 senyawa yang mempunyai aktifitas fitoestrogen (7 senyawa golongan isoflavon dan 1 senyawa koumestan) antara lain: daidzein, daidzin, genistein, formononetin, ononin dan koumestrol.2

INFORMASI UMUM TUMBUHAN OBAT
Acuan Sediaan Herbal. Volume Kedelapan Edisi Pertama. 2014. Jakarta: Direktorat Obat Asli Indonesia, Badan POM RI.

INFORMASI UMUM SIMPLISIA
WHO monograph on selected medicinal plants. Vol. 1. Geneva: World Health Organization; 1999: p.183-194.

PENGGUNAAN EMPIRIS
1. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Vol. 1.

PROFIL KEAMANAN

  1. P. Muralidharan, G. Balamurugan and Venu Babu, Cerebroprotective effect of Glycyrrhiza glabra Linn. root extract on hypoxic rats, Bangladesh J Pharmacol 2009; 4: 60-64
  2. Azadeh Yazdi, Soroush Sardari, Mohammad Sayyah and Majid Hassanpour Ezzati,  Evaluation of the Anticonvulsant Activity of the Leaves of  Glycyrrhiza glabra var. glandulifera Grown in Iran, as a Possible Renewable Source for Anticonvulsant Compounds. Iranian Journal of Pharmaceutical Research (2011), 10 (1): 75-82.
  3. Nudrat Fatima, Mansoor Ahmad, Shazia Syed, Hina Imran and Zahra Yaqeen. Antiulcerogenic and Toxicological Studies of Glycyrrhiza glabra Roots Available in Local Market of Karachi, Karachi University Journal of Science, 2008, 36, 5-8.
  4. Isbrucker RA,  Burdoc GA. Risk and safety assessment on the consumption of Licorice root (Glycyrrhiza sp.), its extract and powder as a food ingredient, with emphasis on the pharmacology and toxicology of glycyrrhizin. Regulatory Toxicol and Pharmacol. 2006; 46(3): 167-192.
  5. WHO monograph on selected medicinal plants. Vol. 1. Geneva: World Health Organization; 1999: p.183-194.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume IV Edisi I, 2008.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume III Edisi I, 2007, diacu dari berbagai sumber :

  1. Ross, Ivan A., 2001,  Medicinal Plants of The World , Chemical constituent, Traditional and Modern Medicinal Uses,  Volume 2, Humana Press Inc., New Jersey, 200

AKTIVITAS FARMAKOLOGI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume VII Edisi I, 2012, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. Somjen D, Katzburg S, Vaya J, Kaye AM, David Hendel D, Posner GH, Tamir S. Estrogenic activity of glabridin and glabrene from licorice roots on human osteoblasts and prepubertal rat skeletal tissues. Journal of Steroid Biochemistry & Molecular Biology. 2004; 91:241-246.
  2. Abhari FR, Abdollahi F. Effect of aqueous extract of Glycyrrhiza glabra (Licorice) on menopausal symptoms. International J of Gynecol & Obs. 2009; 107(Supl. 2): S322.
  3. Nahidi F, Zare E, Mojab F, Alavi-majd H. Effects of Licorice on Relief and Recurrence of Menopausal Hot Flashes. Iranian J of Pharmaceutical Research. 2012; 11(2): 541-548.
  4. WHO monograph on selected medicinal plants. Vol. 1. Geneva: World Health Organization; 1999: p.183-194.
  5. DerMarderosian A, Beutler A, coeds. The review of natural products. 5th Ed. Missouri: Wolter Kluwer Health; 2008: p.796-800.
  6. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, eds. PDR for herbal medicines. 4th ed. New Jersey: Thomson Healthcare; 2007: p.469.
  7. Isbrucker RA, Burdoc GA. Risk and safety assessment on the consumption of Licorice root (Glycyrrhiza sp.), its extract and powder as a food ingredient, with emphasis on the pharmacology and toxicology of glycyrrhizin. Regulatory Toxicol and Pharmacol. 2006; 46(3): 167-192.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume 8, Edisi 1, 2014, diolah dari berbagai sumber yaitu:

  1. WHO monograph on selected medicinal plants. Vol. 1. Geneva: World Health Organization; 1999: p.183-194.
  2. DerMarderosian A, Beutler A, coeds. The review of natural products. 5th ed. Missouri:Wolter Kluwer Health; 2008: p.796-800.
  3. Biolib
  4. . c 1999-2011 [cited 2012 Nov 26]. Available from:http://www.biolib.cz.
  5. Confection Affection
  6. . c 2012 [cited 2012 Nov 26]. Availablefrom: http://www.confectionaffection.net/ekmps/shops/canet/images/6-liquoriceroot-sticks-3949-p.jpg.
  7. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, eds. PDR for herbal medicines. 4th ed. New Jersey:Thomson Healthcare; 2007: p.469.
  8. Khalaf I, Vlase L, Lazăr D, Corciovă A, Ivãnescu B, Loan Lazăr M. HPLC-MS study of phytoestrogens from Glycyrrhiza Glabra. Farmacia; 2010: 58(1).
  9. Awate, 2012. Aphrodisiac Activity Of Aqueous Extract Of Glycyrrhiza glabra In Male Wistar Rats. World Journal of Pharmaceutical Research.
  10. Isbrucker RA, Burdoc GA. Risk and safety assessment on the consumption of Licorice root (Glycyrrhiza sp.), its extract and powder as a food ingredient, with emphasis on the pharmacology and toxicology of glycyrrhizin. Regulatory Toxicol and Pharmacol. 2006; 46(3): 167-192.

FITOKIMIA
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume 7, Edisi I, 2012, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, editors. PDR for herbal medicines. 4th ed. New ersey: Thomson Healthcare; 2007: p.469.
  2. Khalaf I, Vlase L, Lazăr D, Corciovă A, Ivãnescu B, Loan Lazăr M. HPLC-MS study of hytoestrogens from Glycyrrhiza glabra. Farmacia; 2010: 58(1).

Foto:
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/39/01732_-_Glycyrrhiza_glabra_%28Deutsches_S%C3%BC%C3%9Fholz%29.JPG.