Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Eleutherine americana Merr

Nama Indonesia

Bawang sabrang

Suku

Iridaceae

Sinonim

Nama Daerah

Bawang kapal (Melayu); Bawang sabrang (Sunda); Brambang sabrang (Jawa Tengah)

Nama Asing

Deskripsi

Habitus berupa tumbuhan herba, merambat, tinggi 30-40 cm. Daun tunggal, bentuk pita, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, hijau. Bunga majemuk, tumbuh di ujung batang, panjang tangkai ±40 cm, bentuksilindris, kelopakterdiri dari dua daun kelopak, hijau kekuningan, mahkota terdiri dari empat daun mahkota, lepas, panjang ±5 mm, putih, benang sari empat, kepala sari kuning, putik bentuk jarum, panjang ±4 mm, putih kekuningan. Akar serabut, coklat muda

Habitat dan Penyebaran

Budidaya

Secara Vegetatif
Perbanyakan dilakukan secara vegetatif dengan cara memindahkan anaknya dari pohon induk. Bibit diambil dengan cara mencongkel anakan, diusahakan supaya akarnya tidak terputus. Terdapat dua cara pembibitan yang bisa dilakukan, yaitu menggunakan bedengan dan kantong plastik hitam (polibag). Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 2 m dan panjang disesuaikan dengan keadaan lokasi. Bedengan disiapkan dengan mengolah tanah sebanyak dua kali, tanah diaduk dengan pupuk kandang yang sudah matang (kotoran ayam, sapi, kambing) seeara merata. Kemudian bibit didederkan dengan jarak tanam 20 x 20 cm. Pembibitan pada polibag dilakukan dengan menggunakan tanah yang dicampur kompos, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2: 1: 1.Lama pembibitan dari kedua eara tersebut di atas sekitar 3 – 5 bulan. Pembibitan diusahakan bebas dari gulma dan kekeringan. Bibit dapat dipindahkan ke kebun setelah berdaun 3 – 6 buah dengan panjang sekitar 20 – 25 cm. Akhir-akhir ini penelitian tentang teknik perbanyakan in vitro (kultur jaringan) juga dilakukan dan didapat bahwa konsentrasi BAP(Benzyl Amino Purin) yang paling efektif untuk menginduksi regenerasi jumlah tunas bawang sabrang yang terbanyak adalah pada konsentrasi 5,0 ppm. Sedangkan untuk menginduksi tinggi planlet yang tertinggi dan jumlah daun terbanyak yaitu pada konsentrasi 2,5 ppm 1

 

Penyiapan Benih

Persiapan lahan
Tanah dibajak beberapa kali sampai gembur, kemudian dibuat saluran-saluran drainase dan bedengan. Bedengan dibuat dengan ukuran Iebar 1 – 2 m, tinggi 30 – 40 cm, dan panjang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Bibit ditanam dalam lubang tanam dengan kedalaman ± 10 cm, jarak tanam dalam barisan 80 – 90 cm dan antar baris 100 – 150 cm. Untuk tanah yang pH-nya rendah (masam) perlu diberi kapur sehingga meneapai pH 5,5 – 6,0. Pada waktu menanam diusahakan agar tidak terjadi pelukaan. Penyiraman diberikan sesuai dengan kebutuhan.

Pemeliharaan
a. Pemupukan Setiap lubang tanam diberikan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 3 – 5 kg, pada waktu 1 – 2 minggu sebelum tanam. Untuk mencegah serangan patogen, ke dalam lubang tanaman diberikan Furadan dengan dosis 10 kg/ ha. Pupuk SP-36 sebanyak 100 – 200 kg/ha diberikan sebelum tanam. Sedangkan pupuk Urea diberikan sebanyak 25 – 50 kg/ha dan pupuk KCI sebanyak 75 – 150 kg/ha diberikan setelah tanaman berumur 3 – 5 minggu. Setelah tanaman berumur 8 – 10 minggu diberikan pupuk susulan Urea sebanyak 75 – 150 kg/ha dan KCL 75 – 150 kg/ha. Pupuk diberikan dengan eara digali sedalam 8 – 10 cm sekeliling tanaman. b. Pemberian mulsa Mulsa diberikan bersamaan dengan penanaman, dengan tujuan untuk menekan pertumbuhan gulma, memperbaiki kondisi fisik permukaan tanah, mengurangi derasnya aliran air permukaan, menjaga kestabilan suhu tanah, memberi kelembaban yang ideal dan menekan pertumbuhan tunas baru. Mulsa yang diberikan bisa berasal dari serasah atau jerami padi yang kering, yang dihamparkan sekitar lingkungan pertanaman. Penyiangan bertujuan untuk membersihkan gulma dan biasanya dilakukan sebulan satu kali atau sesuai dengan kebutuhan. Bersamaan dengan penyiangan dilakukan pula penyulaman bagi tanaman yang mati dan juga pembumbunan. Pembumbunan dilakukan untuk memperdalam saluran dengan menaikkan tanah ke dalam bedengan, dilakukan pada waktu penyiangan ke dua atau pada saat tanaman berumur 8 – 10 minggu. Pembumbunan berikutnya dilakukan sesuai dengan kebutuhan. c. Pemberantasan Hama dan Penyakit Pemberantasannya dilakukan dengan cara pengambilan tanaman terinfeksi dan dikubur di luar kebun, agar tidak menular ketanaman yang sehat. Pencegahan terhadap terjangkitnya penyakit tersebut dilakukan dengan cara memperbaiki drainase agar kondisi kebun tidak terlalu lembab dan meningkatkan daya tahan tanaman melalui pemupukan K yang lebih tinggi.

Panen
Pemanenan dilakukan apabila daun sudah berwarna kuning sehat dengan cara mencabut tanaman. Simplisia bawang sabrang dapat dibuat dengan cara dikeringkan dalam lemari pengering dengan suhu pengering lebih kurang 40°C selama 5 hari.

 

Nama Latin Simplisia

Eleutherinae Americanae Bulbus

Deskripsi Makroskopis

Simplisia tidak berbau, rasa sedikit asam dan agak pedas. Umbi berbentuk bulat panjang sampai bulat telur, warna putih sampai putih kecoklatan. Umbi lapis terdiri dari beberapa lapis sisik dan di tengah terdapat daun.1

Kegunaan Empiris

Demam nifas, mual (daunnya), sembelit, susah kencing, disentri, radang usus (umbinya).1

Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut dilakukan dengan mengamati perilaku hewan, kematian, dan bobot badan hewan. Model hewan hiperkolesterolemia diperoleh dengan cara memberikan makanan kaya kolesterol dan minuman propiltiourasil selama 2 minggu. Induksi dihentikan saat pemberian bahan uji. Profi l lipoprotein diamati pada hari ke-3, 7, dan 14 setelah pemberian bahan uji. Nilai LD50 dari bawang sabrang >3,6 g/kg BB.1

Toksisitas Subkronis

Belum diketahui

Toksisitas Kronis

Belum diketahui

Uji Mutagenisitas

Belum diketahui

Uji Teratogenisitas

Belum diketahui

Uji Karsinogenisitas

Belum diketahui

Uji Alergenisitas

Belum diketahui

Kontraindikasi

Wanita hamil dan penderita diare parah karena bawang sabrang memiliki efek laksatif, sehingga dapat terjadi kekurangan elektrolit.2

Efek yang Tidak Diinginkan

Belum diketahui

Peringatan

Hati-hati pada penderita tekanan darah rendah karena memiliki efek diuretik.2

Interaksi Obat

Belum diketahui

Uji Pre Klinik In Vitro

Pada penelitian ini diamati efek antihiperkolesterolemia dan toksisitas akut dari bawang sabrang. Model hewan hiperkolesterolemia diperoleh dengan cara memberikan makanan kaya kolesterol dan minuman propiltiourasil selama 2 minggu. Induksi dihentikan saat pemberian bahan uji. Profi l lipoprotein diamati pada hari ke-3, 7, dan 14 setelah pemberian bahan uji. Uji toksisitas akut dilakukan dengan mengamati perilaku hewan, kematian, dan bobot badan hewan. Kolesterol total pada semua kelompok uji selain kontrol menurun secara bermakna (p<0,05) mulai dari hari ke-3 hingga ke-14. Ekstrak air menurunkan kadar kolesterol total dari 105,21+38,86 mg/ dL menjadi 51,1+11,19 mg/dL. Ekstrak etanol-air menurunkan kadar kolesterol total dari 87,18+3,09 mg/dL menjadi 44,8+8,1 mg/dL. Bahan uji tidak mempengaruhi HDL. Profi l trigliserida pada semua kelompok fl uktuatif dan tidak menunjukkan penurunan yang bermakna secara merata. LDL menurun secara bermakna (p<0,05) terhadap kontrol pada semua kelompok uji. Oleh karena itu, bawang sabrang dapat menurunkan kadar kolesterol total dan LDL tetapi tidak berpengaruh pada trigliserida dan HDL.1

Penyiapan dan Dosis

Secara tradisional:
Umbi segar bawang sabrang sebanyak ± 50 g dicuci, diparut, diperas, dan disaring. Hasil saringan ditambah setengah gelas air matang panas. Diminum seperempat gelas, 2 kali sehari, pagi dan sore. Selain itu, bawang sabrang juga dapat dikonsumsi secara mentah sebanyak 7-10 siung 3 kali sehari. Untuk mengurangi bau dari umbi bawang sabrang, maka dapat dikurangi dengan memakannya bersamaan dengan pisang.3

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, dalam wadah tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak.

Kandungan Kimia

Eleutherin, elekanakin, eleuthosida B, isoeleutherin, eleutherol, eleuthinon A, eleuthraquinon A dan B, eleucanarol, naftokuinon, bi-eleuterol, dan elekanasin, 9,9'-dihidroksi-8,8'-dimetoksi-1-dimetil-1H,1H'-[4,4'] bis[naphtha[2,3-c]funanil]-3,3'-dion;6,8-dihidroksi-3,4-dimetoksi- 1-metilanthraquinon 2-asam karboksilat metil ester; 2-asetil-3,6,8-trihidroksi-1-metil anthraquinon; β-sitosterol; 8-hidroksi-3,4-dimetoksi-1-metil-anthrakuinon-2-asam karboksilat metil ester; 4-hidroksil-eleutherin; hongkonin; 4,8-dihidroksi-3-metoksi-1-metilanthrakuinon-2- asam karboksilat metil ester; dihidro-eleutherinol, dan 1,3,6-trihidroksi-8-metilanthrakuinon.1-5

INFORMASI UMUM TUMBUHAN OBAT
2008, Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup, Volume Pertama, Direktorat Obat Asli Indonesia, Badan POM RI, Jakarta.

BUDIDAYA TUMBUHAN OBAT
Badan POM RI, Serial Tanaman Obat Bawang Sabrang, 2007, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. Nirmala, R., Sukrasno, Urnemi, Sadaruddin, Kusmardiyani,S., Adnyana, K., Handayani, R., Mariyani, Yani, 2006, "Penelitian Obat-obatan Tradisional Mikropagasi dan Pengembangan Bawang Tiwai/Bawang Sabrang (Eleutherine americana (L.) merr) sebagai obat herbal", Lembaga Penelitian Universitas Mulawarman, Samarinda.

INFORMASI UMUM SIMPLISIA
Materia medika Indonesia. Jilid V. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan RI;1989: p.194-197.

PENGGUNAAN EMPIRIS
1. Sudarman M dan Harsono R, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, I, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1985, Hal. 40.

PROFIL KEAMANAN
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Sediaan Herbal, Volume VI Edisi I, 2011, disusun dari berbagai sumber yaitu:

1. Stefani A. Uji efek antihiperkolesterolemia dari ekstrak air dan ekstrak etanol-air umbi Eleutherine americana (Aubl.) Merr. terhadap tikus Wistar jantan dan uji toksisitas akut terhadap mencit Swiss Webster. Tesis. Perpustakaan Digital ITB; 2008. http://digilib.itb.ac.id.
2. Permadi A. Tanaman obat pelancar air seni. Jakarta: Penebar Swadaya; 2006: p.21.
3. Mangan Y. Solusi sehat mencegah dan mengatasi kanker. Tangerang: PT AgroMedia Pustaka; 2009.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Sediaan Herbal, Volume VI Edisi I, 2011, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. Stefani A. Uji efek antihiperkolesterolemia dari ekstrak air dan ekstrak etanol-air umbi Eleutherine americana (Aubl.) Merr. terhadap tikus Wistar jantan dan uji toksisitas akut terhadap mencit Swiss Webster. Tesis. Perpustakaan Digital ITB; 2008. http://digilib.itb.ac.id.
  2. Permadi A. Tanaman obat pelancar air seni. Jakarta: Penebar Swadaya; 2006: p.21.
  3. Mangan Y. Solusi sehat mencegah dan mengatasi kanker. Tangerang: PT AgroMedia Pustaka; 2009.

FITOKIMIA
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume 6 Edisi I, 2011; disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. Heyne K. Tumbuhan berguna Indonesia. Edisi I. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan; 1987.
  2. Kusuma IW, Arung ET, Rosamah E, Purwatiningsih S, Kuspradini H, Syafrizal, Astuti J, Kim YU, Shimizu K. Antidermatophyte and antimelanogenesis compound from Eleutherine americana grown in Indonesia. J Nat Med. 2010; 64: 223-226.
  3. Paramapojn S, Ganzera M, Gritsanapan W, Stuppner H. Analysis of naphthoquinone derivatives in the Asian medicinal plant Eleutherine americana by RP-HPLC and LC–MS. J of Pharmaceut and Biomed Anal. 2008; 47: 990-993.
  4. Mahabusarakam W, Hemtasin C, Chakthong S, Voravuthikunchai SP, Olawumi IB. Naphthoquinones, anthraquinones and naphthalene derivatives from the bulbs of Eleutherine americana. Planta Med. 2010; 76: 345-349.
  5. Jinzhong X, Feng Q, Wenjuan D, Gexia Q, Naili W, Xinsheng Y. New bioactive constituent from Eleutherine Americana Merr. Front Chem China. 2006; 3: 320-323.