Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Allium cepa L.

Nama Indonesia

Bawang Merah

Suku

Amaryllidaceae

Deskripsi

Umbi lapis, umumnya berbentuk bundar telur, 2 sampai 5 siung menyatu di bagian pangkal, kadang-kadang seluruhnya masih diliputi beberapa selaput tipis, tiap siung berbentuk bundar telur dengan satu bidang tegak agak cekung, rata atau agak cembung, lebar 1,5 cm sampai 2,5 cm, permukaan luar umbi warna ungu. Di bagian pangkal kadang-kadang terdapat sisa akar serabut.

Status Kelangkaan

Belum Dievaluasi

Kegunaan Empiris

Penggunaan bulbus yang dijelaskan dalam farmakope dan dokumen resmi tertentu yaitu: untuk disentri, diuretik, bisul, luka, bekas luka, keloid, asma, sebagai terapi tambahan untuk diabetes; dalam pengobatan tradisional digunakan untuk antelmentik, afrodisiak, ekspektoran, karminatif,, emmenagogue, tonik, memar, bronkitis, kolera, sakit perut, sakit telinga, demam, tekanan darah tinggi, penyakit kuning, jerawat dan luka.1

Bawang merah digunakan sebagai diuretik, menekan kenaikan kadar gula darah, agregasi platelet, penurun panas, merangsang nafsu makan dan sebagai tapal untuk menyembuhkan luka. Di Filipina, umbi digunakan untuk kecacingan, sakit perut, diare, sakit kepala, sakit telinga dan amenorea.2

Batuk, masuk angin, muntah-muntah, sariawan, bengkak-bengkak, panas (umbinya).3

Toksisitas Akut

Belum diketahui

Toksisitas Subkronis

Belum diketahui

Toksisitas Kronis

Belum diketahui

Uji Mutagenisitas

Belum diketahui

Uji Teratogenisitas

Belum diketahui

Uji Karsinogenisitas

Belum diketahui

Uji Alergenisitas

Belum diketahui

Kontraindikasi

Belum diketahui

Efek yang Tidak Diinginkan

Belum diketahui

Peringatan

Belum diketahui

Interaksi Obat

Belum diketahui

Uji Pre Klinik In Vitro

Fraksi butanol dari ekstrak etanol 50% bawang merah (ALC-02) dosis 2,5–20 μg mempunyai aktivitas penghambatan pelepasan histamin dari sel mast peritoneal tikus yang diinduksi oleh compound 48/80 sebesar 44% hingga 70%, sebanding dengan ketotifen 4 μg. ALC-02 berpotensi sebagai antialergi dengan menstabilkan sel mast.4

9 senyawa Tiosulfinat (TS) dan 4 senyawa cepaenes (CS) yang diisolasi dari bawang merah maupun hasil sintesis dosis 0,25 hingga 100 μM menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap enzim siklooksigenase sheep seminal vesicle microsomes dan 5-lipoksigenase leukosit babi (5-lipoksigenase merupakan salah satu enzim yang berperan dalam proses alergi). Cepaenes dosis 10 μM dan 1 μM menghambat siklooksigenase dan 5-lipoksigenase lebih dari 75%. Urutan aktivitasnya adalah sebagai berikut: saturated aliphatic TS < aromatic TS ≈ α,β-unsaturated TS < CS.5

Lima senyawa alk(en)ylsulfinothioic acid alk(en)yl-esters yang diisolasi dari bawang merah dapat menghambat 5-lipoksigenase dari leukosit babi terbesar pada konsentrasi 5 μM sebesar 100%, sedangkan senyawa sintesis difeniltiosulfat dapat menghambat paling besar pada konsentrasi 5 μM sebesar 100%. Pelepasan histamin menggunakan spektrofluorometri hasilnya bahwa senyawa difeniltiosulfat dapat melepaskan histamin secara spontan sebesar 100%. Penghambatan leukotrien B4 dan C4 paling baik pada senyawa difeniltiosulfat dan allisin masing-masing pada konsentrasi 47 dan 88 μM. Penghambatan biosintesis tromboksan B2 platelet manusia pada senyawa dimetiltiosulfinat dan difeniltiosulfinat pada konsentrasi 0,001 mg/mL masing-masing sebesar 100 dan 99%.6

Penyiapan dan Dosis

50 g bawang merah segar atau 20 g bawang merah kering dalam 1 hari.3

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak.

Uji Pre Klinik In Vitro

Umbi bawang merah segar, diberikan secara intragastrik pada tikus percobaan menunjukan aktivitas hipokolesterol. Umbi bawang merah segar, dikonsumsi langsung secara oral pada orang dewasa normal dengan dosis 80 gram setiap hari selama 5 bulan, menunjukan aktivitas penurunan kolesterol. Sari segar umbi bawang merah, menunjukan aktivitas hipolipemik pada kelinci. Perlakuan tersebut menjaga kenaikan level serum kolesterol selama 60 hari.

Pada penelitian lain dilaporkan bahwa ekstrak butanol, diberikan langsung pada laki-Iaki dewasa dengan dosis 50 gram, tidak menunjukan aktivitas penurunan kolesterol.

Penyiapan dan Dosis

Dosis harian: 50 gram umbi segar atau 20 gram ekstrak kering

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak.

Uji Pre Klinik In Vitro

Studi dari tahun 1965-1975 melaporkan efek antidiabetes pada kelinci Banyak penelitian terkini yang melaporkan efek antidibetes dari bawang merah. Senyawa kimia yang diperkirakan memiliki kontribusi pada aktivitas antidiabetes adalah asam amino metil sistein sulfoksida. Senyawa ini dapat mengontrol glukosa darah pada kelinci dan efeknya sebanding dengan insulin.1

Dekokta dari umbi segar, diberikan secara intragastrik pada tikus dengan dosis 0,5 mL/tikus, memiliki aktivitas antihiperglikemia. Ekstrak etanol 95% umbi segar, pada dosis 250 mg/kg BB, memiliki aktivitas antihiperglikemia pada kelinci yang diinduksi diabetes oleh alloksan dan terjadi penurunan gula darah sebesar 18,57% setelah 2 jam perlakuan.2

Uji klinik umbi segar dosis 50 gram/orang yang diberikan secara oral pada pasien diabetes menunjukkan aktivitas antidiabetes dengan penurunan gula darah sebesar 30-50%.2

Penyiapan dan Dosis

Dosis harian: 50 g umbi segar atau 20 g ekstrak kering.3-5
Ramuan untuk diabetes: Umbi bawang merah (dirajang) sebanyak 4 g, buah buncis (dirajang) sebanyak 15 g dan daun salam (dirajang) sebanyak 10 helai. Kemudian rebus dengan 120 mL air sampai air tersisa 100 mL. Saring dan dinginkan. Minum 1 kali sehari 100 mL. Diulang selama 14 hari.6

Penyimpanan

Simpan di tempat yang sejuk dan kering di dalam wadah yang tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak.

INFORMASI UMUM TUMBUHAN OBAT
Acuan Sediaan Herbal. Volume Kedelapan Edisi Pertama. 2014. Jakarta: Direktorat Obat Asli Indonesia, Badan POM RI.

PENGGUNAAN EMPIRIS

  1. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Vol. 1.
  2. Sulistiarini, D., Djamal, J. & Raharjo, I., 1999. Allium cepa L.[Internet] Record from Proseabase. de Padua, L.S., Bunyapraphatsara, N. and Lemmens, R.H.M.J. (Editors). PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation, Bogor, Indonesia. http://www.proseanet.org. Accessed from Internet: 26-Jul-2012
  3. Sudarman M dan Harsono R, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, I, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1985, Hal. 39.

PROFIL KEAMANAN
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume IV Edisi I, 2008, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. DerMarderosin, Ara., Beutler, John A. (Eds.), 2005, The Review of Natural Product, 4th Edition, Fact & Comparison, Missouri, 842-845.
  2. Ross, IvanA., 2001, Medicinal Plants of The World, Chemical Constituent, Traditional and Modern Medicinal Uses, Volume 2, Humana Press Inc., New Jersey, 1-35.
  3. Anonim, 1999, WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Volume 1, World Health Organization, Geneva, 5-15.
  4. Gruenwald, Joerg., Brendler, Thomas., Jaenicke, Christof. (Eds.), 2004, PDR for Herbal Medicines, Third Edition, Medical Economics Company, New Jersey, 606-608.
  5. DerMarderosin, Ara., Beutler, John A. (Eds.), 2005, The Review of Natural Product, 4th Edition, Fact & Comparison, Missouri, 842-845.
  6. Soedibyo, Mooryati., 1997, Alam Sumber Kesehatan, Manfaat dan Kegunaan, Balai Pustaka, Jakarta, 72.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI ANTIDIABETES
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume IV Edisi I, 2008, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. DerMarderosin, Ara., Beutler, John A. (Eds.), 2005, The Review of Natural Product, 4th Edition, Fact & Comparison, Missouri, 842-845.
  2. Ross, Ivan A., 2001, Medicinal Plants of The World, Chemical Constituent, Traditional and Modern Medicinal Uses, Volume 2, Humana Press Inc., New Jersey, 1-35.
  3. Anonim, 1999, WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Volume 1, World Health Organization, Geneva, 5-15.
  4. Gruenwald, Joerg., Brendler, Thomas., Jaenicke, Christof. (Eds.), 2004, PDR for Herbal Medicines, Third Edition, Medical Economics Company, New Jersey, 606-608.
  5. DerMarderosin, Ara., Beutler, John A. (Eds.), 2005, The Review of Natural Product, 4th Edition, Fact & Comparison, Missouri, 842-845.
  6. Soedibyo, Mooryati., 1997, Alam Sumber Kesehatan, Manfaat dan Kegunaan, Balai Pustaka, Jakarta, 72.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI ANTIHIPERLIPIDEMIA
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume III Edisi I, 2007.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI ANTIALERGI
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Volume 8, Edisi 1, 2014, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. WHO Monograph of Selected Medicinal Plants Volume 1. Geneva: World Health Organization; 1999:5-15.
  2. Materia medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta: Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 1995: p.20-23.
  3. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, eds. PDR for herbal medicines, 3rd ed. New Jersey: Medical Economics Company; 2004: p.339-342.
  4. Kaiser P, Youssouf MS, Tasduq SA, Singh S, Sharma SC, Singh GD, Gupta VK, Gupta BD, Johri RK. Anti-allergic effects of herbal product from Allium cepa (bulb). J Med Food. 2009;12(2):374-82.
  5. Wagner H, Dorsch W, Breu W, Willer F. Antiasthmatic effects of onions: Inhibition of 5-lipoxygenase and cyclooxygenase in vitro by thiosulfinates and “Cepaenes”. Prostaglandins, Leukotrienes and Essential Fatty Acids. 1990; 39(1): 59–62.
  6. Dorsch W, Wagner H, Bayer Th, Fessler B, Hein G, Ring J, Scheftner P, Sieber W, Strasser Th, Weis E. Anti-asthmatic effects of onions: Alk(en)ylsulfinothioic acid alk(en)ylesters inhibit histamine release, leukotriene and thromboxane biosynthesis in vitro and counteract paf and allergen-induced bronchial obstruction in vivo. Biochemical Pharmacology. 1988; 37(23): 4479–4486.
  7. DerMarderosian A, Beutler JA (Eds). The Review of Natural Products, 5th ed. Missouri: Wolters Kluwer Health;2008:946-949.

FOTO
http://www.ruangtani.com/wp-content/uploads/2015/08/khasiat-bawang-merah.png