Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Anethum graveolens L.1

Nama Indonesia

Adas Manis

Suku

Apiaceae

Status Kelangkaan

Belum Dievaluasi

Kegunaan Empiris

Semua bagian: Rempah.(1)

Bagian yang hijau daun dan buahnya telah lama digunakan sebagai bumbu masakan dan tanaman obat. Minyak biji adas manis digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, terutama pada anak-anak. Minyak biji adas manis disebut memiliki efek antiseptik yang kuat. Minyak biji biasa digunakan untuk meringankan masalah pencernaan terutama anak-anak, antiseptik, memar, pembengkakan pada sendi (ekternal), sebagai karminatif, obat perut, stimulan, diuretik, radang, melancarkan haid dan melancarkan ASI.(2)

Toksisitas Akut

Uji toksisitas akut ekstrak air dan ekstrak etanol 80% yang dibuat secara maserasi dari biji A. graveolens pada mencit albino BALB/c jantan (n=6) diperoleh LD50 masing-masing ekstrak sebesar 3.040 mg/kg BB secara intraperitoneal dan 6.980 mg/kg secara intraperitoneal.(1)

Uji toksisitas akut suspensi air serbuk A. graveolens pada mencit Swiss albino jantan dan betina (n=10) dosis hingga 500 mg/kg BB peroral menunjukkan tidak teramati adanya gejala toksik setelah pengamatan sampai 14  hari, sedangkan pada dosis yang sangat tinggi (30.000 mg/kg BB) menunjukkan adanya kematian 10% dari hewan uji dan gejala toksik seperti peningkatan denyut jantung, piloereksi, salivasi, tremor, kejang, mengantuk.(2)

Toksisitas Subkronis

Uji toksisitas ekstrak  A. graveolens pada organ reproduksi dan sperma tikus jantan (n=10) dosis 50, 150 dan 450 mg/kg BB peroral selama 14 hari memperlihatkan tidak ada pengaruh terhadap konsentrasi sperma, reaksi acrosome, struktur histologi testis dan epididimis.(3)

Toksisitas Kronis

Uji toksisitas kronis suspensi air serbuk A. graveolens pada mencit Swiss albino jantan dan betina (n=10) dosis 50 dan 100 mg/kg BB/hari  peroral selama 90 hari tidak menyebabkan perubahan signifikan pada organ dalam (viscera), serta memperlihatkan gejala otonom ringan pada tingkat respirasi, denyut jantung, hipertermia, piloereksi, gatal dan alopecia serta aktivitas penenang dan mengantuk.(2)

Uji Mutagenisitas

Uji genotoksisitas suspensi suspensi air serbuk A. graveolens menunjukkan peningkatan yang signifikan frekuensi micronucleated-polychromatic erythrocytes (PCE).(2)

Uji mutagenisitas ekstrak metanol 50% dan fraksi herba A. graveolens dengan metode uji Ames menunjukkan efek mutagenik pada Salmonella typhimurium.(4)

Uji genotoksisitas secara in vitro minyak esensial dari herba dan biji A. graveolens konsentrasi 0,10; 0,15; 0,20; dan 0,25 µL/mL pada limfosit manusia menunjukkan terjadinya induksi  chromosome abberation (CA) dan sister chromatid exchange (SCE) yang tergantung dosis.(5)

Uji Karsinogenisitas

Uji karsinogenisitas serbuk kering herba A. graveolens yang dicampurkan bersama dengan makanan (33%) pada tikus ACI inbred jantan dan betina (n=12) selama 450 hari tidak teramati adanya efek karsinogenik.(7)

INFORMASI UMUM

  1. http://www.theplantlist.org/tpl1.1/record/kew-2638934.

PENGGUNAAN EMPIRIS

  1. Medicinal herbs index in Indonesia, 2nd ed. Jakarta: PT Eisai Indonesia; 1995: p.181.
  2. Nguyen Thi Tâm, de Guzman, C.C. & Jansen, P.C.M., 1999. Anethum graveolens L.In: de Guzman, C.C. and Siemonsma, J.S. (Editors). Plant Resources of South-East Asia No. 13: Spices. Backhuys Publisher, Leiden, The Netherlands, pp. 71-74.

PROFIL KEAMANAN

  1. Hossein Hosseinzadeh, Gholam_Reza Karimi and Maryam Ameri. Effects of Anethum graveolens L. seed extracts on experimental gastric irritation models in mice. BMC Pharmacology 2002, 2.
  2. Saleh Alqasoumi, Tajdar Husain Khan, Mohammed Al-Yahya, Ibrahim Al-Mofleh and Syed Rafatullah, 2012. Effect of Acute and Chronic Treatment of Common Spices in Swiss Albino Mice: A Safety Assessment Study. International Journal of Pharmacology, 8: 80-90.
  3. Sitthichai Iamsaard, Thawatchai Prabsattroo, Wannisa Sukhorum, Supaporn Muchimapura, Panee Srisaard, Nongnut Uabundit, Wipawee Thukhammee, Jintanaporn Wattanathorn. Anethum graveolens Linn. (dill) extract enhances the mounting frequency and level of testicular tyrosine protein phosphorylation in rats. Biomed & Biotechnol. 2013 14(3):247-252.
  4. Fukuoka, M., Yoshihira, K., Natori, S., Sakamoto, K., Iwahara, S., Hosaka, S., & Hirono, I. (1980). Characterization of Mutagenic Principles and Carcinogenicity Test of Dill Weed and Seeds. Journal of pharmacobio-dynamics, 3(5), 236–244.
  5. Lazutka, J. R., Mierauskiene, J., Slapsyte, G., & Dedonyte, V. (2001). Genotoxicity of dill (Anethum graveolens L.), peppermint (Menthaxpiperita L.) and pine (Pinus sylvestris L.) essential oils in human lymphocytes and Drosophila melanogaster. Food and chemical toxicology : an international journal published for the British Industrial Biological Research Association, 39(5), 485–92.

FOTO
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Anethum_graveolens20090812_475.jpg.