Informasi Umum Tumbuhan Obat

Nama Latin

Foeniculum vulgare Mill

Nama Indonesia

Adas

Suku

Apiaceae

Sinonim

Anetum foeniculum; Foeniculum capillaceum; Foeniculum officinale

Nama Daerah

Das-pedas (Aceh); Adas (Melayu); Adas manis (Minangkabau); Hades (Sunda); Adas (Jawa Tengah); Adhas (Madura); Adas (Bali); Walawunga (Sumba); Rempusa (Makasar); Adase (Bugis)

Deskripsi

Habitus berupa perdu tahunan dengan tinggi ±2 m. Batang berlubang, beruas, beralur, dengan percabangan monopodial dan warnanya hijau keputih-putihan. Daun majemuk, menyirip ganda, bentuk daun jarum dengan ujung dan pangkalnya runcing, terdapat aurikel pada ujung nya, tepi rata, panjang daun 30-50 cm, lebar 15-25 cm, dan panjang pelepahnya 5-7 cm, hijau muda, hijau. Bunga majemuk, berbentuk payung, terdapat di ujung batang, kelopak bunga berbentuktabung dengan warna hijau, jumlah helai mahkota ada lima dan berwarna kuning. Bentuk buah lonjong, beralur, panjangnya 6-10 mm dan lebar 3-4 mm, warna hijau bila muda dan hijau keabu-abuan bila sudah tua. Akar tunggang dan berwarna putih.

Habitat dan Penyebaran

Budidaya

Secara Generatif

Perbanyakan tanaman adas biasanya melalui biji. Biji dapat langsung ditanam di lapang dengan jarak tanam 50 cm. Kebutuhan biji sebanyak 4 kg/ha.

Secara Vegetatif

Namun bisa juga dengan cara memisahkan anakan.Sekarang ini, perbanyakan seeara in vitro mulai dilakukan pada tanaman obat, termasuk tanaman adas. Telah dilaporkan bahwa pemakaian media dasar MS ditambah BA 0,1 mg / L + adenin sulfat 160 mg/L dapat memberikan hasil terbaik untuk multiplikasi tunas dengan jumlah rata-rata 4,8 tunas.

 

Penyiapan Benih

Persiapan lahan
Kondisi tanah yang eoeok untuk pertanaman adas adalah tanah yang subur, gembur dan lebih menyukai tanah yang berpasir. Adas akan tumbuh baik pada lahan yang terbuka sehingga memungkinkan penerimaan cahaya matahari langsung

Pemupukan
Tanaman adas menyukai tanah yang subur dan banyak mengandung kapur. Selain itu tanaman ini akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika tersedia cukup unsur hara esensial. Unsur hara yang diabsorbsi oleh akar biasanya dalam bentuk ion anorganik. Ketersediaan unsur hara tersebut, selain bersumber dari tanah juga ditambahkan dari luar ke dalam tanah melalui pemupukan. Pemupukan sebagai salah satu komponen teknik budidaya sangat diperlukan untuk menjamin kecukupan hara selama pertumbuhan vegetatif dan generatif bagi tanaman. Jenis pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk organik dan pupuk anorganik. Pemberian pupuk anorganik sudah biasa dilakukan pada tanaman adas yang berguna untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen. Kebutuhan pupuk pada setiap hektamya yaitu TSP dan KCI masing-masing sebesar 300 kg dan Urea 200 kg yang diaplikasikan sebanyak tiga kali yakni pada umur 15, 30 dan 60 hari.

Pemeliharaan
Dalam masa pertumbuhannya, tanaman adas dapat diserang oleh beberapa jenis hama, misalnya kepik penghisap dan ulat jengkal. Ulat jengkal (Plucia orichalcea F.) adalah hama yang cukup potensial karena dapat merusak tanaman adas dengan cara memotong dan memakan daun, ranting dan bunga. Ulat jengkal berwama hijau terang. Pada serangan berat tanaman dapat menjadi gundul dan hanya tinggal batangnya. Selain itu kemanpuannya untuk berkembang biak yang cukup cepat terutama jika kondisi lingkungannya mendukung. Pada setiap ekor imago betina mampu meletakkan telur hingga 211 butir. Namun di alam, hama ulat jengkal ini temyata mempunyai musuh alami yang mampu untuk mengendalikan populasinya. Musuh alami tersebut berupa lalat

Panen
Pemanenan dilakukan pada waktu buah hampir masak. Buah dipanen dengan cara memotong batang tanaman yang mengandung buah tersebut kemudian dijemur dengan panas matahari selama 4-5 hari. Setelah kering, batang tersebut dipukul-pukul hingga buah adas terlepas dari batangnya. Produksi buah kering sebanyak 300-1200 kg Iha dan produksi bisa mencapai 1600 kg/ha pada daerah sangat cocok.

 

Nama Latin Simplisia

Foeniculi Vulgaris Fructus

Deskripsi Makroskopis

Buah berbentuk memanjang, ujung pipih, gundul, bau khas, rasa agak manis dan khas, warna cokelat kehijauan atau cokelat kekuningan hingga cokelat, panjang sampai 10 mm, lebar sampai 4 mm. Bagian luar buah mempunyai 5 rusuk primer, menonjol, warna kekuningan.

Kegunaan Empiris

Penggunaan buah yang dijelaskan dalam farmakope dan dokumen resmi tertentu yaitu: untuk dispepsia, kembung, ekspektoran, inflamasi ringan pada saluran pernapasan atas, nyeri pada hernia skrotum, dan dismenorea; dalam pengobatan tradisional digunakan untuk blepharitis, bronkitis, sembelit, konjungtivitis, diabetes, diare, dispnea, demam, maag, sakit kepala, kurang nafsu makan, infeksi pernapasan dan saluran kemih, afrodisiak , antelmentik, emmenagogue, galactagogue.1
Daun dapat dimakan mentah atau lebih umum dengan cara dimasak. Di Jawa, adas dimakan sebagai lalap. Potongan batang yang dikunyah dapat memberikan rasa menyenangkan. Penggunaan adas dalam pengobatan sudah berlangsung sejak zaman dahulu, hal itu disampaikan oleh Hippocrates dan Dioscorides yaitu sebagai diuretik dan emmenagogue, dan telah digunakan sebagai bahan utama dalam sistem pengobatan Arab dan Ayurveda. Buah secara luas dikenal sebagai stimulan, sakit perut, ekspektoran dan karminatif. Akar digunakan sebagai diuretik dan pencahar. Di Indonesia, buah digunakan dalam kombinasi dengan kulit spesies Alyxia diyakini bermanfaat untuk sariawan. Di India, daun digunakan sebagai diuretik, jus buah diberikan untuk memperbaiki penglihatan, dan infus buah untuk meningkatkan sekresi susu dan peluruh berkeringat. Dalam pengobatan herbal Cina, adas digunakan untuk nyeri gastro-enteritis, hernia, gangguan pencernaan dan perut, ekspektoran dan merangsang produksi susu. Di Jerman, buah digunakan dalam untuk mencegah gangguan dispepsia, sebagai antispasmodic gastro-intestinal, sebagai ekspektoran dan sirup batuk anak-anak.2
Perut sakit, batuk, sariawan, batuk rejan, susah tidur, tidak teratur datang haid (bijinya), asma, masuk angin, perut kembung (minyaknya).3

Toksisitas Akut

Pemberian per oral ekstrak etanol adas dosis 0,5; 1 dan 3 g/kg BB pada tikus, tidak menimbulkan kematian dan tidak terjadi perubahan signifi kan pada berat badan dan berat organ vital, parameter haematologi dan spermatogenik dibandingkan dengan kontrol.6 Biji adas dosis 6 g biji per hari tidak boleh diberikan dalam jangka waktu yang lama karena kandungan anetol dan estragol bersifat karsinogenik. LD50 minyak esensial adas adalah 4.500 ml/kg peroral pada tikus; anetol 2.090 mg/kg BB (peroral pada tikus, tingtur biji adas > 3000 mg/kg BB per oral pada tikus (setara dengan 30.000 mg biji adas).Pemberian ekstrak etanol adas per oral pada mencit dosis 100 mg/kg BB selama 3 bulan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hal mortalitas, parameter hematologi dan spermatogenik dibandingkan kelompok kontrol.7

Toksisitas Kronis

Uji toksisitas kronik oral (90 hari) menggunakan ekstrak etanol buah adas pada tikus rodent dosis 100 mg/kg BB per hari tidak menunjukkan efek toksik. Penggunaan kronik dosis tinggi trans-anetol pada tikus menginduksi terjadinya sitotoksisitas, nekrosis sel dan proliferasi sel. Pada tikus, hepatotoksisitas diamati ketika asupan trans-anetol lebih dari 30 mg/kg BB per hari. Pada tikus betina, hepatotoksisitas kronik dan kemungkinan kecil insidensi tumor hepar dilaporkan terjadi saat pemberian trans-anetol dosis 550 mg/kgBB per hari, dosis yang diperkirakan 100 kali lipat dibandingkan asupan pada manusia.

Kontraindikasi

Penderita kanker karena estrogen dependent dan radang ginjal.

Efek yang Tidak Diinginkan

Terjadi reaksi alergi pada kulit dan paru-paru. Dapat menimbulkan reaksi alergi pada penderita yang sensitif namun jarang terjadi, seperti asma, dermatitis kontak dan konjungtivitis hidung.Terjadi resiko yang kecil terjadinya atopic asma yang ditimbulkan dari pemberian adas manis.2,3

Peringatan

Hati-hati pemberian pada wanita hamil, menyusui, anak-anak dan penderita kencing manis.

Interaksi Obat

Siprofloksasin: Pemberian adas bersamaan dengan siprofloksasin dapat mempengaruhi absorpsi, distribusi, eliminasi, serta mengurangi ketersediaan hayati siprofloksasin hampir satu setengah kalinya. Jika dikonsumsi bersamaan, sebaiknya diberi selang waktu minimal 2 jam3,4

Antikonvulsan: Adas dapat meningkatkan resiko kejang epilepsi. Hindari penggunaan bersamaan.

Uji Pre Klinik In Vitro

Uji antitukak ekstrak air buah adas pada tikus galur Sprague-Dawley dosis 75, 150 dan 300 mg/kg BB signifi kan menunjukkan efek protektif dalam mencegah terjadinya tukak lambung akibat induksi 1 mL etanol 80% 1 jam setelah perlakuan. Persentase inhibisi tukak lambung pada dosis tersebut berturut-turut sebesar 37,8; 27,9 dan 68,2% dibandingkan kontrol negatif. Sebagai kontrol positif pada penelitian tersebut, inhibisi tukak lambung famotidin dosis 20 mg/kg BB sebesar 34%.

Selain pengukuran nilai indeks tukak dan persentase inhibisi, diukur pula kadar malondialdehid darah (MDA), glutation (GSH), nitrat serum dan nitrit sebagai indikator peroksidasi lipid; asam askorbat, retinol dan β-karoten untuk mengetahui khasiat antioksidan ekstrak. Hasilnya menunjukkan terjadinya penurunan signifi kan kadar MDA dan peningkatan kadar GSH pada kelompok perlakuan dosis 150 dan 300 mg/kg BB, peningkatan signifi kan kadar nitrit dan nitrat pada dosis 75 dan 150 mg/kg BB, serta peningkatan kadar GSH. Kadar asam askorbat meningkat pada semua dosis perlakuan ekstrak, paling signifi kan pada dosis 300 mg/kg BB. Begitu pula dengan β-karoten dan retinol, peningkatan signifi kan hanya terjadi pada dosis 150 mg/ kg BB.6

Penyiapan dan Dosis

Secara tradisional: 5-7 g buah kering/hari, 10-20 g sirup.7

Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak.

Kandungan Kimia

Konstituen utama buah adas adalah minyak esensial: transanetol, (+)-fenkon, estragol (metilkavikol), limonen, p-anisaldehid, α-pinen dan α-felandren. Kandungan lainnya antara lain minyak atsiri: anetol, kamfen, p-simen, mirsen, γ-terpen, terpinol, cis-osimen, dipenten, β-felandren, asam anisat, fi toestrogen, dan minyak lemak.1,3

Bahan Baku

ekstrak yang dibuat dari Foenicullum vulgare Mill, suku Apiceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 12% v/b dan trans-anetol tidak kurang dari 7,80%.

Formulasi

Tiap kapsul mengandung :
Ekstrak kental buah adas 400 mg
Pengisi 150 mg
Selulosa mikrokristal 100 mg

Cara Pembuatan Sediaan

Timbang ekstrak kental buah adas, pengisi, selulosa mikrokristal masing-masing sejumlah  yang diperlukan sesuai formula.

Encerkan ekstrak kental buah adas dengan alkohol 70% sampai larut dan tambahkan pengisi, ayak dan keringkan dengan oven pada suhu 40-60°, ayak dengan ukuran mesh yang sesuai, masukkan ke dalam cangkang kapsul dengan ukuran yang sesuai.

Periksa keseragaman bobot kapsul dan  masukkan kapsul dalam wadah tertutup rapat.

INFORMASI UMUM TUMBUHAN OBAT
Anonim, 2008, Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup, Volume Pertama, Direktorat Obat Asli Indonesia, Badan POM RI, Jakarta.

BUDIDAYA TUMBUHAN OBAT
Badan POM RI, Serial Tanaman Obat Adas, 2006, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. A. Arivien R dan Sudiarto. 1998. Volume Beberapa Hara Makro Terangkut Tanaman Adas (Foeniculum vulgare Mill.). Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 4 (1). 26-27.
  2. Siswanto dan Wiratno. 1998. Serangan Ulat Jengkal Pada Tanaman Adas. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 4 (1). 23-24.
  3. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. 2004. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia Volume 1. Jakarta. 159 hal.
  4. Departemen Kesehatan RI. 1989. Vademekum Bahan Obat Alam. Direktorat Jenderal Pengawas Obat dan Makanan.Jakarta. 411 hal.
  5. Januwati,M dan Joko Pitono. 1998. Pengaruh Pupuk P dan K Terhadap Pertumbuhan Tanaman Adas. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 4 (1).27-29.
  6. M Kuswandi, Susi Iravati, Ratna D.T., Ani Setyaningsih. 2004. Daya Antibakteri Minyak Atsiri Adas Manis (Foeniculum vulgare Mill.) Terhadap Bakteri Yang Resisten Antibiotik.Fak. Farmasi VMS, FK UGM, Fak. Farmasi UGM.
  7. Natalini, N.K. , Ali Husni dan Endang Gati. 1998. Propagasi Tanaman Adas Secara In Vitro. Warta Tumbuhan Obat Indonesia.4 (1).29- 31.
  8. Sajekti Paluli, Anna Rijanto dan Popy Hartatie H~.rdjo. 1998. Studi Induksi Tunas Aksilar Adas (Foeniculum vulgare Mill.) Secara In Vitro. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 4(1).25.
INFORMASI UMUM SIMPLISIA

Departemen kesehatan RI. 2008. Farmakofe Herbal Indonesia Edisi I. Jakarta.187 hal.

PENGGUNAAN EMPIRIS
  1. WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Vol. 3, 2007.
  2. Purwaningsih, Harmida & Brink, M., 1999. Foeniculum vulgare Miller [Internet] Record from Proseabase. de Guzman, C.C. and Siemonsma, J.S. (Editors). PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation, Bogor, Indonesia. http://www.proseanet.org. Accessed from Internet: 09-Jul-2012
  3. Sudarman M dan Harsono R, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, I, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1985, Hal. 33.
PROFIL KEAMANAN
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Sediaan Herbal, Volume VI Edisi I,  2011, disusun dari berbagai sumber yaitu:
  1. Birdane FM, Cemek M, Birdane YO, Gulcin İ, Buykokuroğlu ME. Beneficial effects of Foeniculum vulgare on ethanol-induced acute gastric mucosal injury in rats. World J of Gastroenterol. 2007; 13(4): 607-611. Available on www.wjgnet.com.
  2. WHO monographs on selected medicinal plants. Volume 3. Geneva: World Health Organization; 2007: p.136-149.
  3. Duke AJ. Handbook of medicinal herbs. 2nd edition. Washington DC: CRC Press; 2002: p.294-296.
  4. Zhu M, Wong PY, Li RC. Eff ect of oral administration of fennel (Foeniculum vulgare) on ciprofl oxacin absorption and disposition in the rat. J. Pharm Phamacol. 1999; 51:1391-1396.
  5. Skidmore-Roth L. Mosbys Handbook of herbs & natural supplements. 4th edition. Missouri: Mosby Elsevier; 2010: p.258- 260.
  6. ESCOP Monographs The scientifi c foundation for herbal medicinal products. 2nd edition. United Kingdom: ESCOP, the European Scientifi c Cooperative on Phytotherapy; 2003: p.162- 168.
  7. Shah AH, Qureshi S, Ageel AM. Toxicity studies in mice of ethanol extracts of Foeniculum vulgare fruit and Ruta chalepensis aerial parts. J Ethnopharmacol. 1991; 34: 167-172.

AKTIVITAS FARMAKOLOGI SALURAN PENCERNAAN
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Sediaan Herbal, Volume VI Edisi I,  2011, disusun dari berbagai sumber yaitu:

  1. WHO monographs on selected medicinal plants. Volume 3. Geneva: World Health Organization; 2007: p.136-149.2.
  2. Materia medika Indonesia. Jilid II. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan RI; 1978: p.36-41.
  3. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, scientific editors. PDR for herbal medicines. 4th Edition. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.317-319.
  4. Purwaningsih, Harmida & Brink M. Foeniculum vulgare Miller. In: de Guzman CC and Siemonsma JS, editors. Plant resources of South-East Asia No. 13: Spices. Leiden: Backhuys Publisher; 1999: p.126-130.
  5. Farmakope herbal Indonesia. Edisi I. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia ; 2008: p.1-5.
  6. Birdane FM, Cemek M, Birdane YO, Gülçin İ, Büyükokuroğlu ME. Beneficial eff ects of Foeniculum vulgare on ethanol-induced acute gastric mucosal injury in rats. World J of Gastroenterol. 2007; 13(4): 607-611. Available on www.wjgnet.com.
  7. Duke AJ. Handbook of medicinal herbs. 2nd edition. Washington DC: CRC Press; 2002: p.294-296.
  8. Zhu M, Wong PY, Li RC. Eff ect of oral administration of fennel (Foeniculum vulgare) on ciprofloxacin absorption and disposition in the rat. J. Pharm Phamacol. 1999; 51:1391-1396.
  9. Skidmore-Roth L. Mosby’s Handbook of herbs & natural supplements. 4th edition. Missouri: Mosby Elsevier; 2010: p.258-260.
  10. ESCOP Monographs The scientifi c foundation for herbal medicinal products. 2nd edition. United Kingdom: ESCOP, the European Scientific Cooperative on Phytotherapy; 2003: p.162-168.
  11. Shah AH, Qureshi S, Ageel AM. Toxicity studies in mice of ethanol extracts of Foeniculum vulgare fruit and Ruta chalepensis aerial parts. J Ethnopharmacol. 1991; 34: 167-172.

FITOKIMIA
Badan POM RI, Acuan Sediaan Herbal, Sediaan Herbal, Volume VI Edisi I, 2011, disusun dari berbagai sumber yaitu

  1. WHO monographs on selected medicinal plants. Volume 3. Geneva: World Health Organization; 2007: p.136-149.2.
  2. Materia medika Indonesia. Jilid II. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Departemen Kesehatan RI; 1978: p.36-41.
  3. Gruenwald J, Brendler T, Jaenicke C, scientific editors. PDR for herbal medicines. 4th Edition. Montvale: Thomson Healthcare; 2007: p.317-319.
  4. Purwaningsih, Harmida & Brink M. Foeniculum vulgare Miller. In: de Guzman CC and Siemonsma JS, editors. Plant resources of South-East Asia No. 13: Spices. Leiden: Backhuys Publisher; 1999: p.126-130.
  5. Farmakope herbal Indonesia. Edisi I. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia ; 2008: p.1-5.
  6. Birdane FM, Cemek M, Birdane YO, Gülçin İ, Büyükokuroğlu ME. Beneficial effects of Foeniculum vulgare on ethanol-induced acute gastric mucosal injury in rats. World J of Gastroenterol. 2007; 13(4): 607-611. Available on www.wjgnet.com.
  7. Duke AJ. Handbook of medicinal herbs. 2nd edition. Washington DC: CRC Press; 2002: p.294-296.
  8. Zhu M, Wong PY, Li RC. Eff ect of oral administration of fennel (Foeniculum vulgare) on ciprofloxacin absorption and disposition in the rat. J. Pharm Phamacol. 1999; 51:1391-1396.
  9. Skidmore-Roth L. Mosby’s Handbook of herbs & natural supplements. 4th edition. Missouri: Mosby Elsevier; 2010: p.258-260.
  10. ESCOP Monographs The scientific foundation for herbal medicinal products. 2nd edition. United Kingdom: ESCOP, the European Scientic Cooperative on Phytotherapy; 2003: p.162-168.
  11. Shah AH, Qureshi S, Ageel AM. Toxicity studies in mice of ethanol extracts of Foeniculum vulgare fruit and Ruta chalepensis aerial parts. J Ethnopharmacol. 1991; 34: 167-172.
FORMULASI BERBASIS EKSTRAK
  1. Anonim, 2008, Farmakope Herbal Indonesia. Edisi I. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  2. Symptomatic treatment of dyspepsia, bloating and flatulence (9, 23–25). As an expectorant for mild infl ammation of the upper respiratory tract (24, 26). Treatment of pain in scrotal hernia, and dysmenorrhoea (8).
  3. Zhu M, Wong PY, Li RC. 1999. Effect of Oral Administration of fennel (Foeniculum vulgare) on ciprofloxacin absorption and disposition in the rat. J. Pharm Phamacol., 51:1391.