Daftar Istilah

 
Hasil sarian berbentuk cair yang diperoleh dengan mencampur minyak atsiri dengan air atau sediaan berupa air hasil penyulingan simplisia yang mengandung minyak atsiri.
Hasil sarian berbentuk cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90°C selama 30 menit.
Sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.
Sebagai cairan penyari digunakan air, eter, etanol, atau campuran etanol dan air. Penyarian simplisia dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau penyeduhan dengan air mendidih.
Ekstrak berbentuk cair yang diperoleh dari hasil penyarian dengan atau tanpa proses penguapan penyari, hingga memenuhi persyaratan yang ditetapkan
Ekstrak berbentuk kental yang diperoleh dari proses penguapan sebagian penyari, hingga memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
ekstrak berbentuk kering, yang diperoleh dari proses penguapan penyari dengan atau tanpa bahan tambahan, hingga memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Obat kumur dan cuci mulut umumnya mengandung bahan tanaman yang berkhasiat sebagai astringen yang dapat mengencangkan atau melapisi selaput lendir dan tenggorokan dan tidak dimaksudkan agar obat menjadi pelindung selaput lendir.
Sediaan padat yang berbentuk bulat, dengan ukuran partikel tertentu, berbahan baku ekstrak yang penggunaannya dengan cara dilarutkan, disuspensikan, atau diemulsikan dalam air.
Hasil sarian berbentuk cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90°C selama 15 menit.
Sediaan padat obat tradisional; bahan bakunya serbuk simplisia, ekstrak, atau campurannya, digunakan sebagai obat luar dan penggunaannya dicampur dengan air.
Sediaan obat tradisional yang terbungkus cangkang keras atau lunak; bahan bakunya terbuat dari ekstrak dengan atau tanpa bahan tambahan.
Sediaan obat tradisional berupa pita kain yang cocok dan tahan air yang dilapisi dengan serbuk simplisia, ekstrak atau campurannya digunakan sebagai obat luar dan pemakaiannya ditempelkan pada kulit.
Lethal dose 50, yaitu dosis yang menimbulkan kematian 50% hewan percobaan
Kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut:
Masukkan 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok kedalam sebuah bejana, tuangi dengan 75 bagian cairan penyari, tutup, biarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering diaduk, serkai, peras, cuci ampas dengan cairan penyari secukupnya hingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam bejana tertutup, biarkan ditempat sejuk, terlindung dari cahaya selama 2 hari. Enap tuangkan atau saring.
Sediaan padat obat tradisional berupa lempengan pipih umumnya berbentuk segi empat; bahan bakunya berupa serbuk simplisia, ekstrak, atau campurannya.
Hasil sarian berbentuk cair yang dibuat dengan memeras simplisia nabati segar.
Kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut:
Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian penyari, masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam. Pindahkan massa sedikit demi sedikit kedalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-hati, tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan diatas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator, biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit, tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan diatas simplisia, hingga diperoleh 80 bagian perkolat. Peras massa, campurkan cairan perasan kedalam perkolat, tambahkan cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam sebuah bejana, tutup, biarkan selama 2 hari ditempat sejuk, terlindung dari cahaya. Enap tuangkan atau saring.
Jika dalam monografi tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80 bagian perkolat, tetapkan kadarnya. Atur kadar hingga memenuhi syarat, jika perlu encerkan dengan penyari secukupnya.
Sediaan padat obat tradisional berupa massa bulat, bahan bakunya berupa serbuk simplisia, ekstrak, atau campurannya.
Singkatan dari gram/kilogram berat badan yang digunakan untuk menyatakan dosis/takaran pemakaian.
Singkatan miligram/kilogram berat badan yang digunakan untuk menyatakan dosis/takaran pemakaian.
Hasil ekstraksi simplisia yang berasal dari tumbuhan atau hewan.
Hasil sarian berbentuk cair yang dibuat dengan menyeduh simplisia atau serbuk simplisia dengan air mendidih.
Sediaan obat tradisional berupa partikel yang berasal dari simplisia, ekstrak atau campurannya dengan derajat halus yang sesuai.
Sediaan serbuk berbahan baku ekstrak yang penggunannya dilarutkan dalam air.
bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan. Kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 60 derajat.
Sirup adalah sediaan berupa larutan dari atau yang mengandung sakarosa. Kecuali dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%.
Sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, umumnya dapat melarut, melunak dan meleleh pada suhu tubuh.
Sediaan obat tradisional padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih, silindris, atau bentuk lain, kedua permukaannya rata atau cembung, terbuat dari ekstrak dengan atau tanpa bahan tambahan.
Hasil sarian berbentuk cair yang diperoleh dari proses penyarian 1 bagian simplisia nabati atau hewani dengan 5 atau 10 bagian etanol atau campuran etanol-air.
In Vitro adalah bahasa Latin untuk “di kaca”; mengacu pada uji/penelitian yang dilakukan dalam tabung uji atau media kultur di laboratorium.
In Vivo adalah bahasa Latin untuk “dalam organisme hidup”; mengacu pada uji/penelitian yang dilakukan menggunakan subjek manusia atau hewan. (sumber:http://kamuskesehatan.com/)
Uji klinik adalah tes untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan obat atau alat medis dengan memantau efek mereka pada sekelompok besar orang. Uji klinik adalah salah satu tahapan akhir dari proses penelitan yang panjang dan hati-hati.
Sebagian besar uji klinik yang melibatkan pengujian obat baru berlangsung dalam serangkaian langkah-langkah teratur yang disebut fase. Hal ini memungkinkan peneliti untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dengan cara yang menghasilkan informasi yang dapat dipercaya tentang obat dan keselamatan pasien.

(sumber: http://kamuskesehatan.com/)

Uji praklinik, atau disebut juga studi/ pengembangan/ penelitian praklinik/ non-klinik, adalah tahap penelitian yang terjadi sebelum uji klinik. Uji praklinik memiliki satu tujuan utama yaitu mengevaluasi keselamatan produk baru.
Kebanyakan uji praklinik melibatkan penggunaan hewan. Binatang seperti tikus, ayam, monyet, dan kelinci percobaan (guinea pig) biasanya digunakan dalam uji praklinik. Para peneliti menguji produk pada hewan dan kemudian mengamati efeknya pada kesehatan hewan. Produk hanya lulus uji praklinik jika tidak memengaruhi hewan dengan cara yang berbahaya. Pengujian pada manusia hanya disetujui jika produk tidak memiliki efek berbahaya yang teramati pada hewan.

Ada banyak produk yang menjalani uji praklinik. Beberapa produk yang paling umum menjalani uji praklinik adalah obat-obatan, peralatan medis, kosmetik, dan solusi terapi gen. Penting untuk dicatat bahwa obat juga melalui banyak serangkaian pengujian lainnya ketika menjalani uji praklinik.

Informasi yang diperoleh dengan menafsirkan data dalam uji praklinik sangat bermanfaat untuk mendeteksi untuk mencegah produk berbahaya dan beracun agar tidak memasuki lingkungan dan masyarakat. Melalui penelitian ini, peneliti dapat mempercepat penemuan obat dan meringkas proses pengembangan obat.

(sumber: http://kamuskesehatan.com/)